Sunday, May 24, 2015

Bab I Pitlit "Ospek19Jam"

Pitlit #1: Ospek19Jam

Meski dilarang, Orientasi Studi Pengenalan Kampus atau akrab disingkat Ospek tetap diselenggarakan di Universitas Calon Pejabat (Ucaba). Tapi dari program seminggu penuh, mulai tahun ini dikurangi menjadi sehari saja atas desakan Rektor melalui surat keputusan resminya. Panitia Ospek pun terpaksa patuh. Hanya, mereka tidak kehilangan akal untuk ‘mendidik’ adik kelasnya.

Ospek kali ini memang dilakukan sehari saja. Tapi bukan sehari yang biasa-biasa saja. Panitia memastikan, satu hari Ospek ini tak kalah berkesan dibandingkan dengan Ospek satu minggu sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Semua telah dipadatkan dan dikonsep jauh lebih rapi. Acara digelar nonstop pada Sabtu ini, mulai pukul 5 pagi sampai pukul 7 pagi keesokan harinya.

Pada saat acara, maba tidak boleh membawa apa-apa selain tas karung yang berisi buku tulis, buku tugas, sebungkus makan siang, air minum 1,5 liter, handuk, sikat gigi, odol, dan pakaian ganti untuk sore nanti. Semua dimasukkan tas yang terbuat dari karung goni.

Untuk wanita yang sedang menstruasi, ada dispensasi, boleh bawa pembalut. Pakaian mereka harus berupa celana kain hitam dan kaos oblong putih, plus aksesoris, yang cewek dikuncir dua. Semua maba dilarang pakai parfum atau wangi-wangian apapun.

Hari ini adalah hari dimulainya Ospek yang diprediksi ‘menggigit’ itu.

Sabtu pagi, matahari masih merah dan miring. Embun di daun-daun terlihat segar. Udara pun sejuk, cenderung dingin. Tapi badan Ni Luh Dinaralana sudah menghangat. Dadanya sesak. Gadis berkulit kuning langsat itu berlari tergopoh-gopoh. Rambutnya yang dikuncir dua seperti anak culun itu naik-turun mengiringi ayunan kaki-kakinya.

Kaos putihnya berkibar-kibar melawan angin. Lengan pendeknya yang lebar sesekali terangkat karena gerakan itu. Membuat bagian samping tubuhnya terasa sejuk diterpa angin. Apalagi ketika lengannya terangkat saat membenahi poni yang menggatali dahinya. Ketiaknya serasa mendapatkan angin surga setiap kali dia melakukan itu.

Dengan sepatu kets putih, Dinar terus berlari kecil menuju gerbang kampus Ucaba. Diliriknya jarum jam. Bukan jam tangan atau HP, karena sebagai maba tentu dia tidak diperkenankan membawanya. Tapi jam dinding di gedung dalam sana.

Ah, terlambat lima menit! Tepat pukul 5.05 WIB, Dinar tiba di depan para senior yang telah menunggunya dengan wajah garang di depan gerbang.

Seorang senior berdiri dengan dingin dan angkuh melangkah menyambutnya. Dia langsung memelototi Dinar. Gadis itu hanya bisa merendahkan pandangan, memandangi keplek sang senior yang menggantung di dadanya.

Begitu tahu di sana tertulis, “Antono Nugroho. Wakil II Panitia”, Dinar menunduk semakin rendah. Hingga memandangi dadanya sendiri yang naik-turun akibat tegang dan kehabisan napas. Bau menyengat segera tercium dari sesuatu yang menggantung di lehernya. Sebuah ‘liontin’ kalung ikan asin dengan panjang 23 sentimeter menggantung di dadanya. Aksesoris wajib para maba Ospek itu sukses membuatnya mual.

“Berani-beraninya kamu telat di hari pertama!” bentak Antono.

Dinar membasuh leleran peluh di pelipis kanannya. Rasanya jengah dengan keringat-keringat sialan ini. Sebenarnya, gadis setinggi 167 cm itu juga merasakan peluh terus mengalir dari pori-pori ketiaknya. Menimbulkan sensasi geli. Tapi tentu Dinar tidak cukup nekat membasuh bagian itu di depan orang lain.

“Maaf, Kak…” jawabnya lirih.

“Taruh tas karungmu di situ!”

Dinar patuh. Dia meletakkan tas dari karung goni itu beberapa meter di bawah pohon trembesi. Lalu kembali ke seniornya.

"Ga niat kuliah di sini ya?” senior itu semakin kencang membentaknya. “Coba, pilihan keberapa Jurusan Tata Boga ini? Pasti bukan pilihan utamamu kan!"

Dinar tidak bisa menjawab. Karena memang dia telah salah pilih tempat kuliah. Dulu dia sama sekali tak ingin masuk fakultas yang tidak menantang ini. Sebenarnya dia ingin masuk Kedokteran. Namun orangtuanya tak mampu.

Lagipula, “Restoran papamu ini besar,” kata ayahnya melas. “Siapa nanti yang mau urus? Papa sudah sakit-sakitan. Belajarlah di Tata Boga, Nak. Biar ada penerusnya.”

Dinar ingin berontak. Papanya dulu juga bukan kuliah di Tata Boga. Malah dari Jurusan Astronomi. Kok buka restoran? Sudah begitu, memaksa-maksa anak sulungnya kuliah di Tata Boga lagi.

“Heh!” bentak si senior merasa dicuekin. “Bisu kamu ya? Nggak bisa ngomong kamu?”

Dinar mendongak tersadar.

“Jawab! Pilihan keberapa?” Antono mencecar Dinar. Membuat Dinar makin gerah.

Cewek itu merasakan keringatnya seperti rintik hujan yang tidak berhenti-berhenti di kedua pangkal lengannya. Ya Tuhan, belum pernah Dinar merasakan sensasi berkeringat yang memalukan seperti ini.

Apakah karena dia grogi di depan senior yang tampan ini? Atau dia ciut nyali ketika dibentak-bentak? Bisa jadi keduanya. Dinar juga serba salah. Mau menunduk saja, dia tak tahan bau kalung ikan asinnya itu. Mau mendongak, nanti disangka menantang senior.

Tapi akhirnya, Dinar yang keder lebih memilih menunduk.

Dan akibatnya, "Hueeek…!” Dinar merasa mau muntah. Dia berusaha menelan ludah supaya tidak benar-benar muntah. Membuat sang senior semakin naik darah.

“Kamu mau muntah gara-gara lihat aku ya? Kurang ajar!”

“B… bukan, Kak,” jawab Dinar dengan mata berkaca-kaca karena mual. “Ini gara-gara bau ikan asin ini, Kak…”

Antono geleng-geleng tak percaya dengan kata-kata Dinar. “Bau ikan aja muntah, gimana kamu bisa survive di jurusan ini? Cantik-cantik o’on, kamu!”

Jantung Dinar semakin bertabuhan dikata-katai seperti itu. Dia semakin mandi keringat dalam posisi siap tegak lurus di depan senior-seniornya. Total, ada 4 senior yang melipat tangan di dada atau berkacak pinggang di depannya. Oh, Dinar ingin pura-pura pingsan saja rasanya.

“Oh, sebentar! Liontin ikan asinmu kayaknya kelebihan panjangnya ya! Tidak sesuai aturan. Lihat!” Antono memegang ikan asin Dinar. Dia lalu mengeluarkan penggarisnya. “Kampret! Ini lebih 2 cm! Pelanggaran berat!”

LANJUT!