Sunday, March 15, 2015

Dinar tidak tahu apa yang akan dialaminya ketika kedua ketiaknya ditempeli semacam koyo. Tapi begitu Brigita dan Nesya menariknya, barulah dia sadar itulah yang disebut wax kering. Dinar menjerit-jerit panas. Merasakan bulu-bulu ketiaknya tercabut dengan kasarnya.

Di sisi lain, Nesya tampak kecewa. Dia memeriksa sheet wax-nya dan melihat hanya beberapa helai yang menempel di sana. Maka dia membuka wax baru dan menempelkannya pelan-pelan ke ketiak Dinar.

“Tunggu, Kak…. Tunggu….” Dinar protes karena masih merasakan sakit yang luar biasa di kedua pangkal lengannya.

“Tak apalah, cuma sebentar….” hibur Nesya sambil mengusap-usap lembaran lilin supaya melekat dengan sempurna ke ketiak kiri Dinar.

“Siaap?” Nesya tertawa menatap Dinar. “Ambil napaaaaaas…”

Dinar nyengir pasrah.

Bretttt! Dalam satu tarikan, Dinar melolong panjang. Ketiak kirinya seperti terbakar. Dia mencoba meniupinya. Ekspresinya lucu.

“Mantaaaap!” komentar Frans sambil menyuting adegan itu.

Dinar merasa butiran-butiran keringat segera merembes di ketiaknya yang kini gundul itu.

“Giliranku!” sahut Brigita. Dia juga menempelkan wax yang baru ke ketiak satunya. Wax kedua untuk ketiak kanan.

“Hahahaha…. Tolong, Kakak…” Dinar mengiba dengan suara bergetar. Tertawanya getir, setengah menangis.

“Hahaha…” Brigita ikut tertawa. Lalu dengan dingin menarik lembaran itu.

Sekali lagi, Dinar menjerit. Lalu meniup-niup ketiaknya sendiri. Air matanya bercucuran. Keringatnya membanjir.

“Kok dapetnya ga banyak ya?” Brigita mengamati lembar wax itu dengan keheranan.

“Udah, sisanya dicabut biasa aja,” saran Frans.

“Oke, nanti dicabut biasa. Tapi kita coba sekali lagi…” Nesya membuka lembaran baru.

“Oh, tidak….” lenguh Dinar. Wajahnya mengemis-ngemis supaya itu jangan dilakukan. Tapi tidak ada yang mendengarnya. Jeritan dan penderitaan Dinar rupanya justru merupakan hiburan yang menyenangkan bagi mereka.

Lagipula, mereka ingin melihat bagaimana kondisi permukaan ketiak gadis cantik itu.

Tapi mungkin karena kondisinya kotor penuh keringat dan daki, mereka butuh 3 kali wax di masing-masing ketiak Dinar untuk membuatnya mulus. Tentu saja ini seperti penderitaan tak berujung bagi Dinar. Satu kali wax saja sakitnya bukan main, ini sampai 3 kali. Bersama ketiak satunya, berarti total 6 kali.

Selesai proses ini, ketiak Dinar yang tandus kini terlihat. Tapi kondisinya masih merah bekas ditampari dan diwaxing barusan. Frans menelan ludah ketika men-zoom-nya. Ketiak itu indah. Meskipun permukaan kulitnya tak semulus dugaan Frans sejak pagi tadi, tapi lumayanlah. Agak hitam, agak kasar dan berkerut. Tapi sebagai pengamat ketiak, Frans tahu, ini ketiak kelas internasional!

Dinar terkulai lemas. Dia menunduk dan tubuhnya tergantung tak bergerak.

Brigita mendorong dahi Dinar untuk melihat wajahnya. Tapi tidak apa-apa, Dinar tidak pingsan. Dia masih melek. Hanya, wajahnya terlihat kuyu dan menyedihkan.

Semua tertawa. Antono dan Chandra maju melepaskan ikatan Dinar.

“Selamat, Ni Luh Dinaralana!” ucap Antono. “Kamu telah resmi mengikuti Ospek Tata Boga Ucaba. Sekaligus Ospek Band Jantung.”

Semuanya bertepuk tangan dan tersenyum pada Dinar.

Dinar masih pucat. Setelah ikatannya terlepas, dia tidak bisa mengatupkannya lengannya dengan normal. Karena masih nyeri akibat proses waxing. Dia pun harus mengembangkan lengannya seperti punya bisul di kedua ketiak.

Dia juga menggosok-gosok pergelangan tangannya yang sakit sehabis diikat.

“Jangan dimasukin hati ya,” kata Brigita. “Aku ga bener-bener benci ke kamu kok. Semua ini sandiwara doang, Din. Bukan sungguhan. Hihihihi….”

Dinar akhirnya berhasil memaksa diri tersenyum. Wajahnya penuh keringat, matanya merah penuh air mata. Tapi dia tersenyum. Lega akhirnya semua ini berakhir.


Selesai!
Kembali ke list pitlit

Pitlit #1: Ospek19Jam