Sunday, November 2, 2014

Penyerbuan Maya

- Raditya Marlino

Cerita ini bermula ketika kuliah di Bandung, aku berkenalan dengan seorang cewek blasteran chinese di rumah temanku. Namanya Maya. Dia langsing, manis, dan berkulit putih tentunya. Saat kami mengobrol, dia memakai baju lengan pendek, dengan pundak tertutup, tapi bagian ketiak terbuka.

Dan yang membuatku tak bisa konsentrasi saat itu, karena dia selalu merapikan rambutnya yang lurus panjang. Otomatis tangannya selalu terangkat dan tampaklah ketiaknya yang putih dengan sedikit rambut-rambut yang tumbuh halus.

Saat itulah pertama kali aku merasa bahwa ada jiwa predator ketiak dalam diriku.
Dan saat itulah aku jatuh cinta kepada Maya, karena selain cewek ini manis banget, wajahnya mirip-mirip Agnes Monica gitu, ketiaknya pun sangat menarik.

Selang 2 bulan kami berteman akrab, tibalah saat aku nembak Maya. Dan surprise... dia ternyata juga suka ama aku, walaupun aku harus menunggu jawabannya selama seminggu.

Singkat cerita, kami sudah berpacaran beberapa bulan. Selama main ke kosnya, aku selalu disuguhi pemandangan yang membuat hasratku bergejolak.

Mulai dari kaos pendek ketat dengan puser yang keliatan, sampai favoritku: ketika dia memakai kaos putih tanpa lengan.

Suatu siang, aku mampir ke kosnya. Maya belum datang dari kuliah. Selama satu jam, aku tunggu di dalam kamar kosnya, akhirnya dia datang dengan kemeja panjang yang basah kuyup karena keringat.

"Wah sori, Beib, udah nunggu lama ya?" kata Maya.

"Nggak papa, baru aja kok. Kuliah jam berapa tadi pagi?" tanyaku.

"Pagi. Mana bangunku tadi kesiangan lagi. Ga sempet mandi deh," jelasnya. “Eh, aku ganti dulu ya, gerah banget nih. Mau mandi. Bau.” Maya hirup keteknya sendiri.

Aku jawab, "Ga usah dululah. Kita ngobrol dulu, udah kangen nih. Masa sih pacar aku yang cantik ini bisa bau. Ga mungkinlah...."

Dia tersenyum canggung.

Dan sebelum Maya sempat berkata-kata, jiwa predatorku udah bergejolak. Aku tarik tangannya, dan aku pepet dia ke tembok. Langsung aku kunci kedua tangannya di atas.

Maya berteriak kaget, "Jangan! Ngapain kamu?"

Tapi aku sudah tidak peduli dengan teriakannya, langsung aku ciumin dan hirup dalam-dalam ketiaknya yang putih dengan bulu-bulu halus itu.

Ketiak yang berair. Dengan sedikit aroma khas ketiak yang belum mandi. Tapi itulah yang membuatku semakin bersemangat.

Maya meronta-ronta kegelian. Ketiak kanan dan kirinya aku serbu. Sampai kami pun kelelahan dengan “permainan” spontan ini.


Random Gallery: Capri Yik