Sunday, June 8, 2014

Wina, si cerewet yang lebat keteknya (padahal masih SMP)

- Wildan

Saat SMP kelas 2, gw punya temen cewek yang nge-gang di kelas dan kalo sudah kumpul cerewetnya minta ampun. Dia anak Manado yang memang pindahan dari sana. Sepertinya memiliki keturunan Tionghoa. Wajahnya tidak terlalu cantik, biasa saja menurut gw sih, kulitnya putih, dan rambutnya hitam sebahu. Namanya, sebutlah Wina.

Gue saat itu belum bisa mendefinisikan apa itu daya tarik dari temen-temen cewek. Tapi yang masih dominan sejak SD kelas 4 adalah kecantikan wajah.

Gw sdh sering menghindari geng cerewet ini kalo ngumpul, baik di kelas sebelum pelajaran maupun di saat istirahat, sebab terlalu bising buat gw. Wajah-wajah mereka juga terbilang biasa saja menurut gw. Ga sampai bikin gw salah tingkah.

Suatu saat, tempat duduk gw dirotasi, sehingga sekarang tepat di belakang Wina. Berat banget tuh duduk di belakang pentolan geng berisik ini. Tapi gw coba tahan. Toh setiap minggu duduknya dirotasi.

Hari pertama, Wina di depan gw kayak loe duduk jongkok di belakang knalpot motor. Berisik banget! Biar itu lagi pelajaran, ada aja yang bisa dijadiin bahan omongan. Sampe guru juga terlihat kesal.

Hingga hari ketiga, dimana rasa jutek dan kesel gw udah memuncak, dan gw udah sepakat sama temen gw untuk tukaran tempat duduk. Saat itulah hari yang tidak pernah gw lupakan sampai sekarang. Definisi ketertarikan terhadap lawan jenis bergeser.

Wina sebenarnya sedikit banyak menarik jika diperhatikan. Kalo ga cerewet pasti gw bisa berkawan jg. Ga seperti biasanya, hari itu dia mengenakan seragam yang sepertinya baru, dan lengan bajunya longgar sekali.

Saat pelajaran belum dimulai, seperti biasa geng cerewet berkumpul. Aku duduk di belakang Wina sambil membaca, kuperhatikan mereka, salah seorang temannya sekarang meminta tolong untuk Wina mengepang rambutnya.

“Win, loe kan pinter ngepang, cepet, sebelom Pak Anton dateng....” kata teman yang sama bawelnya. Posisi duduk gw tidak dibelakang punggung Wina persis, tapi di belakang kirinya. Jadi saat Wina hendak merapikan rambut temannya, dia memalingkan tubuh ke kiri dan saat ini aku memandang dia dengan jelas sekali dari tempat dudukku.

Saat itulah gw melihat pemandangan yang sangat aneh, begitu membuat tertegun, karena tidak pernah sekalipun sebelumnya bagian tersebut pernah gw perhatikan dengan seksama.

Wina mempersiapkan rambut temannya untuk dikepang dengan mengangkat tangannya yang saat itu mengenakan pakaian seragam SMP baru dan longgar sekali. Saat itulah gw pertama kali tertegun melihat ketiak seorang wanita.

Wina yang berkulit putih bersih memiliki ketiak yang sangat berbeda sekali dengan kulitnya. Saat dia mengangkat tangannya memegang rambut temannya yang hendak dikepang dari dekat dan jelas sekali gw melihat begitu lebat dan hitamnya rambut di ketiaknya!

Momen itu terjadi sekitar 2-3 menit dimana gw seolah berada di sebuah tempat asing yang menyenangkan. Dan kenapa jantung gw jadi berdegup keras sekali, sampai-sampai dahi gw keringetan? Sungguh aneh.

Armpiters sekalian, sejak kejadian itu hingga sekarang, gw menemukan daya tarik dari seorang wanita selain parasnya, yakni bulu ketiaknya. Well yes, I became a woman’s armpit hair fetish since then.

Pfuih… leganya udah sharing.

Random Gallery: Kammy K.