Monday, January 30, 2012

Rani, si cewek super gelian

Aku punya teman, namanya Rani. Kenal pertama kali sekitar 20 tahun lalu saat masih sama-sama kuliah di sebuah perguruan tinggi. Sampai sekarang kami masih bareng. Kebetulan punya hobby yang sama dan dapat pekerjaan di tempat yang sama. Rani temanku ini bertubuh kecil, berkulit sawo matang. 

Wajahnya biasa saja. Bukan type perempuan yang akan menarik perhatian laki-laki. Sebagai temannya aku tahu benar bahwa dia adalah seorang perempuan yang baik dan lurus-lurus saja. Agak minderan juga dalam pergaulan. Maklum di tempat kerjaku cukup banyak perempuan dan jauh lebih cantik dari dia. Ia selalu berpakaian rapi dan rapat. 

Tak pernah aku melihat dia pakai tanktop atau singlet meski di tempaat kerjaku sangat memungkinkan untuk memakai pakaian semacam itu. Hubunganku dengannya sangat dekat. Ia menganggap aku sebagai adiknya sendiri. Aku memanggilnya Mbak.


Sekitar 10 tahun yang lalu saat kami sama-sama lembur mengerjakan beberapa tugas penelitian dari kantor. Kami bertiga. aku, Rani dan salah seorang teman cewek namanya Kika. Sampai malam kami mengerjakan tugas kami masing-masing dalam satu ruang. 

Di tengah kami tengah asik mengerjakan tugas tiba-tiba saja Rani mengeluh kalau badannya pegel semua. Lalu minta tolong Kika untuk mijitin. Si Kika mau. Cewek bertubuh besar dan kuat ini segera mengambil tikar di gudang dan menggelar di ruangan tempat kami kerja. Lalu ia minta Rani untuk tidur tengkurap di sana. Kika mulai memijitnya.

“Duduk di punggungku saja gak apa-apa.” Kata Rani. Kika lalu duduk di atas punggung Rani yang kecil mungil itu.

“Mijitnya pelan-pelan saja ya. Aku gelian.” Kata Rani lagi. Kika mengangguk dan mulai mijitin. Tapi rupanya si Kika ini hobby menggelitik. Buktinya sedikit-sedikit ia menggoda Rani dengan menggelitik pinggangnya. Rani langsung menggeliat kegelian sambil memekik.

“Maaf, Mbak. Nggak sengaja.” Kata Kika sambil ketawa.

Aku sambil mengerjakan tugasku memperhatikan mereka berdua. Nah suatu kali mataku bertatapan dengan mata Kika. Tiba-tiba saja aku iseng memberi kode dia untuk menggelitiki Rani. Kika mengangguk dan memberi tanda “nanti saja.”

Setelah sekitar setengah jam memijat Rani Kika memberi kode aku untuk mendekati mereka. Lalu setelah aku dekat Kika segera menggelitik pinggang Rani dengan kuat. Sontak Rani terkejut dan berteriak. Tapi Kika terus menggelitikinya. Rani meronta sambil tertawa terbahak-bahak. Ia meronta sekuat tenaga tapi badannya yang kecil tak berdaya ditindih oleh Kika.

“Pegangin tangannya, To” kata Kika. Dengan senang hati aku segera memegangi tangan Rani yang terus bergerak. Kupegangan kedua tangannya dan kutarik ke depan dengan kuat.

“Maaf ya, Mbak. Disuruh Kika nih.” kataku sambil tertawa. Rani melotot ke arahku. Bukan marah sih. Tapi kayak gak terima gitu. 

“Awas kamu, To. Lepasin. Lepasin!” Teriaknya. Tapi aku pura-pura gak mendengar. Begitu tangannya kutarik ke depan Kika menggelitik ketiak Rani. Rani makin menggila. Berteriak-teriak dan tertawa sambil meronta sekuat tenaga. Wajahnya merah padam dan bercucuran keringat. Aku bayangkan tentu ketiaknya juga basah oleh keringat. Benar saja. 

Kika sambil menggelitiki ketiak Rani bilang, “Wah, basah nih keteknya.” Rani terus meronta-ronta sambil berteriak.

Kira-kira sepuluh menit Kika menggelitiki pinggang dan ketiak Rani tanpa ampun. Kemudian ia berhenti. “Sudah sudah. Kasihan. Dari pada nanti ngompol.” Kata Kika sambil berdiri. Aku pun juga segera melepas kedua tangan Rani. 

Rani masih terkapar di atas tikar. Kelelahan. Pada saat itu aku baru melihat betapa kaosnya basah oleh keringat. Terutama di punggung dan ketiak. Kasihan juga aku melihatnya kelelahan dan tak berdaya.

Kika duduk di sebelah Rani. “Wah tanganku basah kena keringat ketek nih.” Ia mencium kedua tangannya. “Hmmm baunya.” Katanya sambil nyungir seperti habis makan buah yang kecut rasanya. Aku tertawa. Rani hanya tersenyum. “Awas kalian ya. Tunggu pembalasanku.” Katanya dengan lemah.

“Bawa ganti baju gak, Mbak?” tanyaku. “Bisa masuk angin kalau kaosnya tetap basah seperti itu.”

“Bawa sih. Tapi tanktop. Malu aku pakai tanktop di depan kalian.” Jawabnya.

“Halah pakai malu segala. Keliatan keteknya saja malu. Telanjang tuh baru malu. Lagian ngapain juga bawa tanktop kalau gak dipakai!” Sahut Kika.

“Iya, Mbak. Ganti cepat sana. Daripada sakit. Kerjaan kita masih banyak nih.” Sambungku dengan semangat karena penasaran banget pengen melihat seperti apa ketiak Rani yang selama ini tertutup rapat.

Dengan enggan Rani bangun dari tikar dan mengambil tanktop dari tasnya. “Sebenarnya salah bawa saja sih. Tadinya mau bawa kaos eh yang kebawa tanktop.”

Rani segera menuju kamar mandi. Tak berapa lama ia sudah keluar dengan memakai tanktop warna putih. Aku menatapnya. “Tuh tambah cantik kan?” kataku. Rani senyum malu-malu.

“Iya, seksi tahu. Aku juga baru kali ini lihat Mbak Rani pakai tanktop.”

Rani tak menyahut. Ia langsung menuju mejanya. “Gara-gara kalian nih.” Katanya sebelum kemudian asik dengan pekerjaannya. Aku dan Kika juga kemudian tenggelam dalam kesibukan kami. Tapi sambil bekerja aku kerap melirik ke meja Rani memperhatikan dirinya. Menunggu saat ia merapikan rambutnya. Aku ingin sekali melihat seperti apa ketiaknya yang baru saja basah digelitikin Kika.

Dan saat yang kunatikan itu segera datang. Berkali-kali bahkan. Rani sangat sering mengusap rambutnya. Merapikan rambutnya atau mengusap-usap dahinya. Dan ketiaknya ternyata berbulu. Tipis, hitam dan lembut. Tapi tampak jelas dari tempatku duduk. Beberapa bulu ketiaknya tampat menyatu satu sama lain. 

Mungkin karena tadi habis banjir keringat. Sejak saat itu aku tahu bahwa ketiak Mbak Rani adalah ketiak yang selama ini kunantikan. Ketiak yang berbulu. Sambil bekerja aku membayangkan bisa memegag kedua ketiaknya itu. menciuminya, memainkan bulu-bulunya dan menjilatinya.

Inilah pertama kalinya kau melihat ketiak Rani. Sepuluh tahun yang lalu. Cerita ini akan kulanjut lain waktu. Karena setelahnya adalah usaha-usahaku untuk bisa mencium ketiaknya yang seksi itu. Aku dan Rani masih bekerja sama hingga sekarang. Masing-masing dari kami telah berkeluarga. Tapi ketiaknya adalah milikku untuk selamanya.