Sunday, September 18, 2011

Perempuan travel

perempuan penumpang travel
- Tejo Nuning

Waktu kuliah di Surabaya dulu, saya sering pulang kampung ke Madiun dengan jasa travel. Saya biasa naik jurusan Kediri, karena ada saudara saya di sana yang menjemput saya setiap hari Sabtu. Nah, entah sejak tahun keberapa kuliah, saya mendapati ada seorang perempuan (yang saya duga anak SMA atau paling banter kuliah) yang sering satu travel dengan saya. Paling apes sebulan sekali saya bertemu dia di mobil travel.

Yang menarik, perempuan ini memiliki style yang nyaris selalu sama: Rambut pendek yang diikat ekor kuda dan kaus lengan pendek (sangat pendek) berwarna muda (kalau tidak biru, pink, kuning). Yang lebih menarik, tubuhnya senantiasa basah oleh keringat.

Jika saya duduk di bangku depan dan dia di tengah, biasanya saya berusaha untuk mencari kesempatan mencuri pandang kebelakang melihat bagian leher dan dadanya yang berkilat. Demikian juga ketika saya duduk di belakangnya, saya puaskan diri dengan memandangi lehernya yang sering sekali berkeringat meski berkali-kali dia usap dengan tisu.

Pernah, ketika saya duduk di belakangnya, saya berusaha mencondongkan diri agak depan. Namun saya hanya menghirup wangi rambutnya. Yah, selama itu saya hanya dipuaskan dengan memandangi saja badan kuning kecoklatan yang hampir selalu berkilat tersebut. Tidak lebih.

Sampai hari mujur saya tiba.

Waktu itu, saya duduk di bangku tengah mobil. Tak disangka, jemputan setelahnya adalah perempuan muda tersebut. Dia duduk tepat di sebelah saya pula! Sayangnya, hari itu jaket jins yang biasa diikat di pinggangnya kini dipakainya. Toh saya tetap bisa menyaksikan butir-butir keringat di area leher dan dadanya ketika dia membawa masuk tasnya.

Sial membawa berkah, AC travel hari itu agak rusak. Semburannya sama sekali tidak mendinginkan ruangan di tengah cuaca panas Surabaya. Tahu-tahu, perempuan itu membuka jaket jinsnya. Rupanya dia mengenakan jaket tersebut karena tidak seperti biasa, kali ini dia memakai kaus biru muda tanpa lengan yang mirip kaus singlet.

Dalam proses membuka jaket tersebut, saya bisa dengan jelas menyaksikan punggungnya yang basah. Heran juga, memang panas, namun saya tidak mengerti mengapa bisa sebasah itu? Beberapa kali saya seolah-olah tidak sengaja menyentuhkan lengan saya ke lengannya yang dingin dan lengket. Saya sungguh terpana, ingin sekali langsung membenamkan wajah saya di lehernya yang berkilat-kilat tersebut. Namun saya berusaha sabar, toh perjalanan masih jauh.

Saya terus mencari kesempatan hingga sebuah ide muncul. Saya berpura-pura mengantuk, sedikit menurunkan badan hingga kepala saya hampir sejajar bahu dia. Saya pun memejamkan mata, terkadang menoleh-nolehkan kepala berpura-pura mencari posisi yang bagus untuk tidur.

Tak disangka, perempuan tersebut mengangkat kedua tangannya, menaruhnya ke bangku belakang kepalanya dengan sangat cueknya. Saya benar-benar tak menyangka seorang perempuan timur melakukan hal ini, betapapun mungkin dia kepanasan.

Sembari sesekali menoleh (dengan mata pura-pura terpejam) saya hirup dalam-dalam aroma ketiaknya yang berair tersebut. Tidak menyengat memang, namun juga tidak tercium bau deodoran. Saya mencium aroma asam yang sangat khas.

Cukup lama perempuan itu mengangkat ketiaknya. Terkadang dia menurunkannya, mengipas-kipas leher dengan tangannya, atau menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya, lalu mengangkat lengannya lagi.

Saya tidak tahu apakah dia tahu bahwa saya sedang menikmati ketiaknya. Sebab, semakin lama saya semakin berani. Meski tetap tidak berani menempelkan muka saya ke sana, namun harusnya dia tahu bahwa saya sama sekali tidak mengantuk. Seluruh tubuh saya terjaga dengan semangat yang besar, karena pemandangan dan aroma memikat tersebut.

Sekarang saya tinggal di Bandung. Pengalaman tersebut hanya bisa saya kenang.