Monday, May 23, 2011

Ketiak Dicubit Sampai Biru Tiap Bikin Majikan Jengkel


Foto tubuh Marlena dan bukti alat-alat penyiksaan

Drama penyiksaan manusia oleh manusia lain yang tertutup rapi selama enam bulan terkuak. Korbannya adalah pembantu rumah tangga, Marlena (17 tahun). Sedangkan pelakunya adalah majikan sekeluarga, Tan Fang May (47), Eddi Budianto (50) suami Fang, Ezra Tantoro Suryasaputra (27) anak pertama Fang, dan Rony Agustian Hutri (32) menantu Fang.

Sudah tiga tahun Marlena bekerja di keluarga yang tinggal di kawasan Darmo Permai Selatan itu. Awalnya biasa-biasa saja, namun semakin lama semakin berat. Gadis asal Tuban itu sering dihukum oleh majikan-majikannya, mulai dari ditampar, disuruh bekerja sampai 20 jam sehari, disetrap berjam-jam, sampai dilarang makan. Sejak Desember 2010, penyiksaan bertambah intens.

Menurut Kasat Reskrim AKBP Anom Wibowo, Minggu (22/5), setiap hari Marlena menjadi bulan-bulanan orang seisi rumah. Dari yang muda sampai yang tua, dari wanita sampai pria, semua berlomba-lomba melampiaskan kekesalan pada Marlena. Beberapa kali ABG itu dihajar sapu lidi di punggung, lengan, ketiak, bahkan (maaf) payudaranya. Dia juga pernah disiram air panas, sering disekap di kamar mandi, dikasih makan sisa-sisa makanan, bahkan disuruh minum air bekas cucian peralatan dapur.

Marlena tiap malam dipaksa tidur sekandang dengan herder keluarga di pekarangan belakang. Kandang 2x3 meter tersebut tentu saja bau oleh (maaf) tinja dan kencing anjing besar itu. Marlena harus tidur tanpa alas di sana. Layaknya anjing, leher Marlena juga dirantai agar tidak dapat seenaknya berpindah tempat.

 Anom Wibowo dan foto-foto hasil pemeriksaan tubuh Marlena

Yang lebih memiriskan, pada April lalu, punggung Marlena sempat disiram air panas hingga melepuh. Bekas luka bakar itu tampak jelas saat dia diperiksa di Klinik Polrestabes Surabaya. Dan ternyata, Fang juga punya kebiasaan mencubit puting dan ketiak Marlena sampai memerah ketika gemas. Saat pemeriksaan, kedua ketiak gadis manis itu masih terlihat membiru.

Anggota keluarga yang lain bukannya menolong, malah ikut-ikutan memelonco. Bahkan Eddi, Ezra dan Rony-lah yang membantu Fang merantai leher Marlena. Seolah belum puas, variasi diubah. Marlena terkadang disekap di kamar mandi setiap pukul 17.00 hingga 07.00 keesokan harinya dengan mulut tersumpal kain. Namun tetap, dia tidak boleh menggunakan air di sana. Marlena hanya diperbolehkan mandi sekali sehari atau dua hari. Jika terbukti memboroskan air, gadis berambut sebahu itu harus menebusnya dengan pemotongan gaji.

Fang juga marah-marah kalau air galon cepat habis. Dia langsung menuduh Marlena menghabiskannya. Begitu pula bila Fang merasa porsi makan pembantunya terlalu banyak. Apa-apa harus bayar. “Pernah, kulkas keluarga ini rusak. Nah, karena Marlena yang dituduh merusakkannya, maka biaya servisnya dibebankan Marlena,” beber Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Ratmi, yang menangani kasus ini.

Lantaran hitung-hitungan itu, Marlena tak pernah menerima gaji yang hanya Rp 400.000 per bulan. Bahkan utangnya ke majikan mencapai Rp 9 juta. Kabur takut, sementara utang menumpuk. Marlena pun semakin tidak bisa berbuat banyak, hingga harus pasrah menerima hukuman fisik hari demi hari dari keluarga Fang yang berpendidikan tinggi itu.

Puncak penyiksaan terjadi pada 12 Mei. Ini dipicu keengganan Marlena untuk mengakui tuduhan mencuri perhiasan senilai Rp 1 miliar. Fang yang dikenal tempramen itu langsung kalap dan menginjak-injak tubuh Marlena, mulai dari kepala, badan, lengan, hingga kaki. Paha kanan gadis setinggi 158 cm itu sampai bengkak parah.

Fang dan keluarga mengerjai Marlena habis-habisan seperti itu sampai 14 Mei. Ketika Marlena tidak mampu berdiri lagi karena pahanya sudah sedemikan nyeri, keluarga itu tak kekurangan akal. Fang mengambil sutil yang baru saja dipakai menggoreng. Dengan geram, dia menyundut masing-masing lengan Marlena. Besi panas itu pun merebus kulit Marlena yang mulus.

Marlena tergolek di Rumah sakit

Drama panjang penyiksaan ini terungkap justru ketika Fang berusaha menyeret Marlena ke Polwiltabes Surabaya dengan tuduhan mencuri perhiasan. Polisi yang curiga pada kondisi tubuh Marlena pun menyelidiki. Rupanya ada skenario yang ingin semakin menyengsarakan hidup Marlena dengan menjebloskannya ke penjara.

Di luar dugaan Fang sekeluarga, keadaan berbalik 180 derajat. Marlena dilarikan ke RS Bhayangkara Polda Jawa Timur, sementara para majikannya malah jadi tersangka. Dan mereka semua mengakui adanya penyiksaan itu. Kata Anom, "Di hadapan penyidik, mereka mengaku tidak punya niatan apa-apa saat menyiksa." Hanya kepuasan melihat korban ketakutan, berteriak, berkeringat, menderita dan menangis.

Dari rumah Rony tersebut, polisi menyita satu sutil untuk menyundut, satu termos untuk menyiram air panas, selembar kain untuk membungkam mulut, tali rafia untuk mengikat pergelangan tangan, satu rantai anjing, dan tiga sapu lidi untuk mendera tubuh korban. Polisi menjerat para tersangka dengan Pasal 80 dan 88 UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak serta Pasal 44 UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Jika terbukti, Fang sekeluarga harus mendekam di tahanan lebih dari 15 tahun. Kasus ini membuat Ezra melupakan niatnya untuk merayakan gelar kesarjanaannya dari kampus di Jl. Dinoyo. Baru saja diwisuda 14 Mei, Ezra sudah ditangkap polisi karena kasus ini.

Sumber berita: Portal-portal online (Jawa Pos, Surya, Radar Surabaya, DetikSurabaya, Surabaya News, etc)