Sunday, May 9, 2010

Hukuman untuk si Tomboy

CATATAN: Kiky dapet cerita ini dari internet, terus gw kembangin seperlunya biar sesuai standar HSP. Baik gw maupun Kiky ga tau ini kisah sebenarnya ato bukan. Tapi apapun itu, nikmati aja keseruannya. Pesan gw, don’t try this anywhere. Kalo nekat, resiko loe tanggung sendiri, bro. *Denny*

Akhirnya mau juga Usi memenuhi permintaanku buat makan malam. Mungkin capek nolak aku terus selama tiga tahun ini, mungkin kasihan, atau mungkin sudah bersedia menerima cintaku. Apapun itu, aku gak peduli lagi. Aku sudah membencinya setengah mampus. Jadi, bukan karena sayang kalau aku jauh-jauh menjemputnya di tempat kosnya jam lima sore ini.

“Makan di mana, sih?” tanyanya dingin. Anak ini memang menyebalkan. Sama sekali gak ada perubahan.

“Ada deeeh... Ntar tau sendiri,” jawabku sambil tersenyum menggoda. Sekedar basa basi, karena gak ingin Usi tiba-tiba memutuskan batal pergi.

“Tapi jangan lama-lama, ya! Malam ini aku giliran jaga Nita. Sakitnya tambah parah, tuh. Masa’ aku harus ngorbanin Nita cuma demi kamu? Iiih….”

“Gak lama kok, gak lama. Bentar aja aku udah seneng kok,” aku merendah lagi.

“Ya udah, berangkat! Pakai sandal jepit gini gak papa, kan? Paling juga ke rumah makan murah meriah, kan? Hahahaha…” ejeknya. Aku mengelus dada. Sabar, sabar, sabar….

Di sepanjang jalan kami gak banyak cakap. Usi juga gak banyak nanya. Males mengalami suasana dingin seperti ini lama-lama, kukebut motorku menuju tempat yang telah kupersiapkan bersama dua temanku. Rumah kosong di batas kota. Bukan rumah makan, Us. Ini rumah hukuman!

“Lho, ini kemana, Ric?” Usi mulai curiga.

“Ada tempat makan romantis di sana. Udah, percaya aja!” jawabku ketus.

“Tapi pelan-pelan, dong!” Males mendengar omelan Usi, motor makin kugas. Usi tambah teriak-teriak, “Udah ah, aku gak mau. Gak jadi aja, kita balik!”

Aku tutup kuping. Tak beberapa lama, kami udah sampai di depan pintu rumah itu.

“Ini di mana, Ric? Kamu mau macem-macem, ya?”

“Tunggu di sini bentar!” perintahku, sambil melompat dari motor. Usi tampak kewalahan menyeimbangkan motorku. Susah payah dia berusaha untuk gak jatuh. “Eh, eh… Ric, Rico….! Gimana sih kamu ini!”

Kuambil HP untuk mengabadikan gambarnya yang konyol itu, tapi terlambat. Usi sudah berhasil menyeimbangkan motor machoku.

Gak mau buang-buang waktu, aku segera masuk rumah untuk menemui kedua temanku. Jojo dan Ari lalu keluar. Kedua preman di kampungku itu langsung menghampiri, mencengkeram kedua lengan Usi, dan menyeretnya menuju rumah.

Usi meronta-ronta sekuatnya. Menjerit-jerit protes. Tapi gak ada artinya. Usi diseret ke teras, ruang tamu, hingga memasuki sebuah kamar. Di situ Ari dengan cekatan mengikat dua pergelangannya lalu menyuruhnya naik meja di tengah kamar yang atapnya bolong itu. Hanya tersisa rangka-rangka kayu sebagai penyangga “topi” rumah.

Jojo ikut naik meja itu dan mengambil uluran tali yang tergantung. Cepat saja dia menghubungkan tali itu dengan ikatan di pergelangan Usi. Sementara Ari mengikat pergelangan kaki Usi jadi satu. Jojo juga sempat menguncir rambut Usi seperti ekor kuda. Cepat sekali. Mereka memang sudah berlatih.

Usi melongo tak paham saat Jojo melompat dari meja dan gak mengganggunya lagi. “Kalian mau apa, sih? Rico! Aku gak suka begini-beginian ya, kuperingatkan kalian!” bentak Usi sambil berusaha membuka ikatan di pergelangan tangannya.

“Ri, Jo, jaga di luar. Jangan lupa sembunyikan motorku ke belakang.”

“Oke, Bos.”

“Ka… kamu mau apa, Setan!? Jangan macam-macam lho, atau aku tereak. Kalian bakal jadi bulan-bulanan massa!” suara Usi bergetar ketakutan.

“Tempat ini jauh dari mana-mana, teriak aja.” Aku memanjat meja dengan santai. “Hm, kamu seksi ya kalau keringeten gini.” Aku mengusap peluh di keningnya. Usi spontan mengenyahkan tanganku dengan kasar.

“Aaaah… ketekmu juga basah,” aku mengintip ketiaknya yang terkempit. Kutelusuri kain di pangkal lengan kaos kutungnya. Kurasakan basah di kain bagian itu. Lagi-lagi Usi menghindar dan menangkis.

Lalu aku mengendus tanganku yang sudah basah terkena keringatnya. Kutekuk wajahku, “Bau banget. Belum mandi, ya? Nih cium sendiri!” Aku mengoleskan jemariku yang berlumuran keringatnya tadi ke bawah hidungnya.

Dia menggeleng-geleng, “Iiiiiih! Rico! Apa-apaan, sih!!!”

“Ha-ha, sama bau ketek sendiri gak kuat…”

“Maumu tuh apa, sih? Kamu dendam ya cintamu kutolak terus? Yang gentle dong jadi cowok! Dasar pecundang, ditolak cewek aja sampai main culik gini….”

Aku terdiam. Panas kupingku mendengar cewek sialan ini terus menghinaku. “Tadinya kupikir masih bisa kasihan ama kamu. Tapi kamu emang gak bisa dikasihani. Dalam keadaan gini masih aja sombong. Kamu gak mikir apa aku bisa perkosa kamu di sini. Dua temenku bakal kuberi jatah! Terus, kami bunuh kamu. Memutilasi mayatmu. Heh? MIKIR KE SITU, GAK?”

Gantian, Usi yang terdiam. Dia menatapku dengan pandangan yang berbeda. Pandangan orang yang terteror. Baru sadar dia posisinya sekarang.

“Tapi denger ya, Us,” lanjutku, “Aku gak nafsu perkosa kamu. Kamu tuh gak seberapa cantik. Udah gitu, wajah dan kelakuanmu kayak cowok! Aku aja yang goblok pernah jatuh cinta ama kamu.”

Usi masih terdiam saat aku turun dari meja.

“Rico,” katanya lirih. Tutur kata cewek yang kuuber cintanya sejak tiga tahun ini terdengar lembut, membuatku ingin menoleh. Tapi, “Kamu… siap-siap urusan ama polisi ya abis ini.”

Begitulah, kebencianku pada cewek ini sudah tak terbendung lagi. “Kamu emang perlu dihukum, Us! Biar tau kesakitanku selama tiga tahun ini!”

Dalam empat kali hentakan, kutarik meja tempat Usi berdiri. Dia menjerit, bukan hanya karena kaget. Tapi juga karena ikatan di pergelangannya menguat, menggigit ke dalam daging dan tulangnya. Kedua lengannya menegang lurus ke atas. Yap, sejak meja itu lenyap, Usi kini tergantung sempurna, hanya bertopang pada tali di pergelangan tangannya. Kakinya melayang satu jengkal di atas lantai.

Spontan, kupeluk dia dari belakang. Spontan pula tanganku menggerayanginya. Usi berteriak-teriak seperti orang gila, membentak-bentak aku, memaki-makiku dengan kata-kata kasar. Tapi aku mana peduli.

“Hmmm,” bisikku, sesuatu mengalihkan konsentrasiku dari payudara yang kecil itu. “Bau tubuhmu alami banget. Gak pakai parfum, ya? Itulah kamu, gak pernah hargai aku! Diajak pergi makan, malah pakai pakaian seadanya gini. Pakai sandal. Bahkan dari bau kecut ketekmu, aku tahu kamu belum mandi!”

“Lepas, gak! Rico, lepas gak!?”

Tanganku langsung berpindah ke kedua keteknya: Bagian tubuh dari seorang wanita yang membuatku tergila-gila. Tapi…. Alamaaaaak, bukan ketek mulus yang kuraba. Yang ada ketek berhutan yang becek banget. Usi meronta lagi.

Segera kubalik tubuhnya. Shiiiiiiit, aku baru nyadar Usi miara bulu ketiak selama ini. “Pantesan asem bangeeeet!”

Aku bisa melihat wajah Usi memerah, entah karena malu, entah karena marah. “Kamu gelian, gak?”

“Lepaskan aku, gobloooook…!”

“Eh, ditanya baik-baik malah gitu. Kamu gelian gak? Kalau gak jawab, kubuktikan sendiri nih,” jari-jariku bersiap di depan kedua ketiaknya.

“Iya, iya, iya. Aku gelian, Riiiic! Sekarang, lepaskan akuuuu….”

“Nah gitu, dong!” aku tersenyum puas. “Bagus kalau kamu ngaku gelian. Karena hukuman pertamamu adalah kukitik-kitik selama satu jam. He he.”

“Bener-bener goblok kamu itu, Ric! Tunggu sampai aku lepas, ya!”

Tanpa banyak kata, aku langsung menggelitiki kedua keteknya dari belakang, supaya dia tak bisa menendangku.

Usi pun langsung terlonjak kegelian. “Jangan, Ric! He he he… JANGAAAAN…. He he he…”

Kedua tanganku tak kenal ampun. Jari-jariku semakin kuat menekan dan menari-nari di sela-sela bulu keteknya.

“He he he… pleaaaase… Riiiiiic… HUA HA HA HA HA….”

Terdengar sorak sorai dan tepuk tangan dari luar rumah. Itu Ari dan Jojo. Tampaknya mereka juga menikmati suara Usi yang menyedihkan dan memohon-mohon ampun itu. Aku sendiri terangsang hebat.

Tubuh ramping Usi bergoyang ke kanan dan ke kiri. Mencoba berputar, tanpa hasil. “Ini belum 5 menit lho, Us. Hemat tenagamu. He he…”

Tawa Usi makin gak kekontrol. Jari-jariku makin liar menghajar kedua keteknya. Kaos abu-abunya makin gelap dibasahi peluh. Pangkal lengannya jadi makin licin, sehingga justru makin enak dikitik-kitik.

Usi mulai “kreatif” dengan berusaha menaikkan tubuhnya ke atas untuk menutup kedua ketiaknya dari tanganku. Tapi setiap dia melakukan itu, aku ganti menggelitik pinggangnya sambil menarik tubuhnya ke bawah lagi. Gak pakai lama, tubuh itu kembali anjlok dan ketiak yang lebat namun bulu-bulunya pendek itu terbentang lagi.

Kulihat jam tanganku, tujuh menit berlalu. Dia masih terus berteriak-teriak memohon ampun sambil ketawa kegelian seperti orang gila. Nafasnya tersengal-sengal. Suaranya serak-serak. Ah, kalau melihat reaksi tubuhnya yang sensitif begini, rasanya satu jam terlalu sebentar.

Kuhentikan aksiku di menit kesepuluh. Bukan karena iba, tapi aku sendiri ternyata juga kecapekan. Busyet. Kupandangi tanganku, ada lima helai bulu ketiak yang rontok. Kuciumi jemariku, ada aroma penderitaan dari Usi. Aku suka bau itu. Aku bahkan terangsang olehnya.

“Ampun, Ri… Udah ya… Iya, deh… aku sekarang sadar…. Maafin aku… selama ini..…” katanya terbata-bata. Usi yang angkuh kini tergantung berayun-ayun seperti sansak tinju yang kehujanan. Seluruh tubuhnya bermandi keringat. Aromanya semerbak memabukkan.

“Makanya, jadi cewek itu jangan sok-sokan! Jaga mulutmu! Jaga perasaan orang lain. Tau, gak?”

“Iya, Ric. Maaf, ya. Sekarang lepaskan aku, ya… Please, Ric…”

Aku tertawa, “Maafmu telat! Telat tiga tahun! Udah, waktu istirahatmu selesai. JO! RI! HOEEE, PADA KEMARI, HOOE…!!!”

“Pleeeease, Rico sayang…. Aku kan udah minta maaf….!” Usi merengek.

Jojo dan Ari yang menunggu di luar segera masuk, “Ada apa, Bos?”

“Ada apa, ada apa! Mau ikutan gak gelitikin cewek jelek ini sampai mati?”

“Wah, mau dong, Bos! Hehe. Bagian mana, nih?” Ari gak sabaran.

“Terserah. Pinggang… kaki…. Pokoknya ketek bagianku!”

“Oke, aku pinggang, deh,” sahut Jojo.

Usi menyimak percakapan kami dengan wajah pucat dan nafas yang masih satu-dua.

Tanpa komando, kami bertiga langsung bekerja. Aku kembali fokus pada kedua keteknya. Jojo ke belakang dan segera menekan-nekan pinggang Usi. Ari yang agak susah. Dia harus duduk di lantai dan memegang tali di antara kedua pergelangan kaki Usi, biar kaki pendek itu gak bergerak-gerak sepanjang eksekusi.

Usi memekik kegelian lagi. Kali ini lebih dahsyat. Digelitiki tiga orang secara bersamaan membuatnya semakin gila. Sekarang bukan hanya atasannya yang kuyup, celana cargo 3/4-nya juga basah banget oleh keringat. Siksaan ini benar-benar pantas untuk cewek angkuh semacam Usi.

Biar ada variasi, aku juga menggelitik leher Usi. Kulihat Jojo sesekali berimprovisasi dengan menggelitik perut atau paha bagian dalam Usi, dekat selangkangannya. Sementara Ari berimprovisasi dengan memijat keras lutut atas cewek menyebalkan ini.

Sesekali Ari menginjak tali di antar pergelangan kaki Usi karena jengkel dengan kaki Usi yang ke sana kemari. Diinjaknya sampai kaki yang tadinya melayang kini menyentuh lantai. Otomatis beban pergelangan tangannya tambah berat. Ini keuntungan bagiku, karena ketiaknya jadi seperti lebih luas dengan molornya tubuh Usi.

Setiap kali Ari melakukan itu, Usi menjerit-jerit lebih histeris. Air matanya yang menetes keluar menambah sempurna penderitaan di wajahnya. Aku malah mengejeknya, “Huh, tomboy pakai menangis pula!”

Usi tampaknya sudah terlalu capek menanggapiku. Dia masih tertawa dengan wajah memerah. Tapi dia sudah sampai pada batasnya. Kepalanya jatuh. Tubuhnya tak bereaksi lagi terhadap gelitikan-gelitikan. Usi tak sadarkan diri.

Kami pun berhenti.

Kulihat jamku. Ah, baru juga setengah jam.

“Hei, kurang ajar!” Ari yang di bawah tiba-tiba mengumpat sambil menepuk keras paha Usi, “Ngompol pula cewek ini! Aku kena. Kurang ajar!!”

Ha ha ha ha….

***************

Tubuh Usi terayun-ayun ke depan-belakang dipermainkan Jojo dan Ari. Sampai akhirnya primadona kita siuman.

Aku mendekat. Melipat kedua tanganku di dada. “Kembalilah ke Jawa besok, paling lambat lusa. Kamu sudah gak diterima lagi di sini. Ingat, jangan ceritakan peristiwa ini ke siapa-siapa! Ngerti?”

“Ngerti,” jawabnya pasrah. “Sekarang… lepaskan aku dong, Ric. Lenganku udah mati rasa, nih. Aku bisa lumpuh kalau digantung terus gini. Please, Ric, lepaskan, ya….”

“Mati rasa?” aku mendekat dan mencengkeram pangkal lengannya. Jempolku menusuk kuat ke tulang ketiak kirinya, cukup lama. Usi melolong panjang. “Masih bisa kesakitan, berarti belum mati rasa, lah. Ha ha ha.” Jojo dan Ari ikut ngakak.

Aku masih gak percaya pada si kecut ini. Paling setelah pulang dia lapor polisi. Atau minimal curhat ke teman-temannya. Jadi kutunjukkan HP-ku ke dia. Di sana ada foto-fotonya saat pingsan. Termasuk video. Semuanya telanjang bulat, dari berbagai sudut, dengan posisi terikat, dan semuanya berkilau karena keringat.

Usi tertunduk. Dia sudah terpukul KO. Tapi itu belum semuanya. “Hei, Us, lihat apa yang kupegang ini…. Hei, lihat sini dong!”

Usi mendongakkan kepalanya. Butuh waktu lima detik sebelum dia menyadari yang kubentangkan adalah CD-nya yang pesing dan bra-nya yang asem. “Kamu ngerti apa yang tejadi pada Nita, teman sekosmu? Dia bukan gila karena stres gagal skripsi seperti yang kalian duga. Dia disantet sama dukun andalan temanku ini,” aku menepuk-nepuk bahu Jojo.

“Nita dibuat muntah-muntah dan berperilaku aneh gitu atas permintaanku. Kamu inget gak, Nita minggu lalu kehilangan sweater? Itu aku yang curi, buat medium santet. Sejak itu, Nita kayak orang gila, kadang-kadang kayak orang kesurupan gitu, kan? Tapi tenang aja, sejak hari ini santet itu sudah dicabut. Pas kamu pulang, aku jamin Nita sudah bisa mengenali temen-temen kosnya lagi. Nita cuma peringatan. Sasaran sebenarnya adalah kamu, ha ha ha.”

Usi mendengar penjelasanku dengan tegang. “Jaga baik-baik barang keramat ini, Jo!” kataku pada Jojo. Jojo langsung memasukkan barang-barang pribadi Usi ke kantong plastik, lalu cabut membawa motornya. Tinggallah kami bertiga.

“Tau gak kamu, Us, santet gak bisa nyebrang laut. Kamu udah diwisuda, kan? Urusanmu di sini udah kelar, kan? Jadi saranku, buruan balik ke Jawa. Dan jangan kembali lagi! Sebelum nasibmu kayak Nita, bahkan lebih parah! Kujamin, lebih lama pula penderitaanmu!”

Bibir si kecut itu bergetar, “I…. iya, Ric. Besok aku beli tiket pesawat kok. Aku janji, Ric….”

“BAGUS!” sambutku. “Dan jangan lapor polisi. Jangan ceritakan soal malam ini ke siapa-siapa! Kamu gak dilukai. Paling-paling lecet di pergelangan tanganmu gara-gara tali. Itu juga paling 1-2 hari sembuh gak berbekas. Kamu juga gak diperkosa. Kamu bahkan gak punya bukti kita pernah ketemu. HP ini pun bakal kubakar malam ini juga setelah foto-foto dan videomu ku-upload di internet.”

“Upload? Rico, kok tega, siiih….”

“Tenang, Us. Selama kamu payih pada kesepakatan, gak bakalan ada yang bisa akses foto-fotomu. Bahkan dua temenku tadi gak kukasih pinjam HP ini, gak kukasih tau lokasi files-nya di internet. Mereka emang udah lihat tubuh bugilmu. Tapi mereka gak ikut pegang file-nya. Ini cuma antara kamu dan aku, Us. Pegang kata-kataku ini!”

Usi kehabisan kata. Hanya terlihat wajahnya yang merah padam memandangi Ari yang cengengesan penuh kemenangan.

“Yang perlu aku ingatkan sekali lagi, kamu tuh gak punya bukti, gak punya saksi! Temanku ini pakai nama samaran semua. Bahkan nama asliku bukan Rico, ha ha ha! Jadi, sia-sia kamu lapor polisi. Malah akibatnya, dalam satu klik, gambar-gambar tubuh Usi Aidawati yang seksi tapi bau itu bakal tersebar ke seluruh dunia lewat Google. Mau?”

Usi menelan ludah. Dia sudah kalah telak. Tak tahu harus berkata apa lagi. Si ketiak kecut itu sudah pasrah dengan skenarioku.

Makanya waktu kusuruh berolahraga, dia menurut saja. Aku cuma belum puas melihat Usi menderita. Itulah kenapa dia kusuruh mengangkat badannya tinggi-tinggi, dan gak boleh diturunkan sebelum kusuruh. Begitu dia turun karena ototnya gak kuat lagi menopang tubuh, kusuruh Ari menampari ketiaknya, sampai Usi menutup ketiaknya dengan cara mengangkat tubuhnya lagi.

Plash!

PLASH!

PLASSSH!

Usi merintih tiap kali ketiaknya kena gampar. Dia pun cepat-cepat mengangkat tubuhnya lagi. Tapi kuat berapa lama? Gak sampai satu menit, tubuhnya anjlok lagi, dan ketiak lebat itu segera dimangsa telapak tangan Ari.

PLASH!

PLASH!!

Begitu seterusnya. Ketiak kiri dan kanan sekarang sudah sama-sama merahnya. Rintihan Usi berubah lolongan tangis. Dan saat Ari mengeluh telapaknya panas, aku dengan senang hati menggantikannya.

PLASH!

PLASH!

PLASH!

Permainan ini berjalan 15 menitan, dan terus lanjut kalau saja Usi gak pingsan untuk kedua kalinya. Payah! Penampilan aja kayak cowok, tapi daya tahan kayak cewek manja.

Lucunya, biarpun tak sadarkan diri, keringat Usi terus mengucur dari pori-porinya. “Lepasin talinya, Ri. Kita selesai.”

Kulihat wajah kecewa dari Ari. Aku pun sebenarnya masih ingin lanjut menyiksa ketiak cewek ini, tapi apa boleh buat, sudah hampir jam 8. Aku gak mau Usi pulang malam, karena itu akan mengundang kecurigaan teman-teman dan ibu kosnya.

Ari segera membereskan barang-barang. Membakar tali-tali dan segala sesuatu yang bakal menjadi jejak. Lalu kami membangunkan Usi dengan cara menampar pipinya. Begitu siuman, si kecut itu langsung diseret Ari keluar rumah. Sepeda motorku sudah di situ.

Aku melemparkan kunci motorku ke Ari. Usi kududukkan di tengah. Aku di belakang. Sebelum berangkat, aku berbisik, “Temenku udah nyetir buat kamu satu jam ke depan. Sebagai imbalannya, kamu pijitin dia sepanjang perjalanan, oke? Awas kalau berhenti sedetik saja! Kuturunin kamu di jalan!”

Sekali lagi, Usi patuh. Pasrah.

Perjalanan malam yang menyenangkan. Dingin, tapi aku terlalu sibuk untuk menggigil. Ada banyak hal yang bisa kukerjakan.

Kadang aku menepuk-nepuk perut Usi yang agak buncit untuk ukuran cewek yang langsing seperti itu. Kadang aku memeluknya erat dari belakang sehingga dia susah bernapas. Kadang mencubiti punggungnya. Kadang aku meremas payudaranya yang mungil. Kadang menghirup aroma lehernya yang asem. Kadang menggigitnya sedikit dan merasakan kulit asinnya.

Kadang aku hanya meletakkan tangan di kedua ketiaknya yang sudah kering itu. Diam di sana selama beberapa menit. Merasakan otot-otot di sana bergerak-gerak (karena Usi terus memijit punggung Ari) merupakan hiburan tersendiri bagiku.