Sunday, December 6, 2009

Si Pecundang Yang Kusayang Itu

- Armpiter

Aku adalah mahasiswa tahun ketiga, tepat sebelum rezim Soeharto terguling. Saat itu, kita para senior, mengadakan Student Day tiap Sabtu-Minggu. Biasa, senioritas sudah tradisi. Mahasiswa baru (maba) harus dan tidak boleh membawa apa-apa selain tas karung yang berisi buku tulis, buku tugas, sebungkus makan siang, air minum 1,5 liter. Pakaiannya celana jins dan kaos oblong putih. Untuk wanita yang sedang menstruasi, ada dispensasi, boleh bawa pembalut. Tapi, semua maba dilarang pakai parfum atau wangi-wangian apapun.

Hari pertama, seorang maba cewek telat. Teman-temannya sudah masuk kelas, dia baru datang. Aku lihat sendiri dari balkon lantai II, dia mencium tangan ayahnya yang duduk di atas sadel sepeda motor lalu tergopoh-gopoh menuju gedung fakultasku.

Aku juga lihat dari atas, betapa temanku (sebut saja Ira) mencegatnya. Dia ditanya kenapa telat. Aku tidak mendengar alasannya. Tapi kemudian dia disuruh pergi oleh Ira. Beberapa detik kemudian, kudengar langkah kaki cepat di belakangku. Maba cantik itu berlari menaiki tangga.

Tapi lalu terdengar lagi suara Ira, “Ayo cepeeet… baliiiik!”

Kudengar napas berat tertiup di belakangku. Dia bergegas kembali ke lantai dasar. Aku belum paham. Kulihat dia menghampiri Ira lagi di bawah. Sejenak kemudian dia naik lagi ke lantai II. Oh, ternyata Ira tadi tidak menyuruhnya pergi, tapi menghukumnya dengan naik-turun tangga.

Setelah 10 kali bolak-balik, maba itu sempoyongan naik ke lantai II. Tidak permisi, tidak menyapa, dia nyelonong hendak ke kelasnya di lantai III. “Hey, sini!” cegatku merasa dicueki.

Dia menghampiriku dengan napas satu-dua. Kulihat peluh mengalir deras di pantai rambutnya. Astaga, sepertinya aku pernah kenal wajah anak ini. Dimana, ya? Kubaca kepleknya. Dinda (bukan nama sebetulnya). Kulihat nama panjangnya. Shit!

Dia seniorku di SMP! Aku dulu OSPEK (waktu itu namanya masih penataran) pernah dikerjai dia. Tak perlu kusebutkan tindakannya yang sangat merendahkan itu. Yang jelas aku sakit hati. Bertahun-tahun dendam itu belum hilang, bahkan tambah meradang ketika melihat wajah cantik yang menjengkelkan itu. Mau balas tidak bisa. Secara, dia itu seniorku. Untung SMA kita tak satu sekolah.

Dan sekarang dia menjadi maba dua tahun di bawahku, hahaha! Kemana saja dia tiga tahun ini? Nganggur? Tak pelak, kepalaku segera dipukul-pukul oleh ide, “Kerjai cewek ini! Kerjai cewek yang pernah ngerjai kamu ini!”

“Main selonong aja! Nggak tahu siapa saya?” hardikku. Logat naturalku mungkin kayak Ahmad Dhani, pentolan Republik Cinta Management.

Dinda menggeleng. Kutunjukkan kata “ketua” di keplekku, eh, dia malah cuma nunduk. Dasar pecundang!

“Squat jump 10 kali,” perintahku.

Dinda tak bereaksi. Bikin jengkel saja nih anak, “15 kali!”

Shit! “Masih diem juga? Sekarang 20 kali!”

Menyadari hukumannya terus mengalami inflasi, Dinda baru bergerak dalam raut wajah keterpaksaan. Begitu lengannya diangkat untuk bersiap-siap squat jump, lengan kaos Dinda melorot. Shiiit….

Sebagai armpiter, aku disuguhi panorama indah pagi-pagi begini! Mana tahan!! Aku langsung bergeser ke sampingnya, sehingga semakin kulihat jelas ketiak yang ditumbuhi tiga-empat helai bulu pendek itu.

Ereksi spontan! Apalagi setelah Dinda naik-turun dan menyebarkan aroma alami tubuhnya. Ketiak pagi yang tak dilindungi wangi-wangian apapun. Aku mabuk kepayang, sampai tak sadar angka 20 telah terucap, lebih tepatnya terdesah.

“Eh, eh! Siapa suruh turunin tangan!” cegahku. Enak saja, aku sedang menikmati aroma ketiakmu kok. Dinda pun meletakkan kembali tangannya di kepala sambil melihat bawah. “Sebagai sanksi kelancangan dan ketidaksopananmu, kamu hapalin preambule.”

“Preambule?” ulang Dinda dengan suara terengah-engah.

“Iya! Kamu kalau nggak tahu preambule UUD’45, aku balikin kamu ke sekolah. Hapalin! Nanti sore, jangan ada satu kata pun yang salah! Jelas?”

“Jelas, kak,” jawabnya. Kak? Ha ha ha, kamu lebih tua dua tahun panggil kakak?

“Ya udah, ke kelas.”

Dinda mengelap peluh di pelipisnya dalam gerakan lambat.

“Cepeeeet…!!” bentakku. Mantan kakak kelasku itu pun terbirit-birit. “Dasar lemot!” Yeah, “dasar lemot” itu adalah kalimat favorit Dinda sewaktu memplonco aku dulu. Sekarang gantian dia yang kuolok lemot. Emang enak digituin, Kak Dinda?

Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku sambil tersenyum iblis.

Pelajaran di kelas pun dimulai. Standar. Membosankan. Jangankan peserta atau maba, panitianya saja bolak-balik menguap. Tapi bedanya, panitia sewaktu-waktu bisa menghukum peserta yang dianggap menyepelekan pelajaran. Beberapa maba pria penguap disuruh bernyanyi di depan kelas. Dijamin kantuk mereka hilang, berganti suasana ger-geran.

Lalu tibalah sesi diskusi. Sebelumnya, panitia mewanti-wanti, semua maba harus aktif dalam diskusi ini. “Yang diam saja akan menerima konsekwensinya!” ancam Anton, salah satu SC. 70 maba di jurusanku lalu dibagi jadi 3 kelompok. Masing-masing berperan sebagai rakyat, pemerintah dan mahasiswa. Kemudian argumen mereka diadu.

Seru! Pemerintah, sebagaimana diduga, menganggap dirinya sudah on the track, rakyat sejahtera di bawah presiden incumbent, ini era tinggal landas. Pemerintah malah mengkritik gerakan mahasiswa yang membuat stabilitas nasional goncang dan disintegrasi bangsa di daerah-daerah mulai marak. Intinya, pemerintah mengharap mahasiswa belajar, cepat lulus, dan bisa segera berbuat riil untuk bangsa.

Sementara pihak rakyat yang diprediksi mendukung mahasiswa ternyata juga menyerang mahasiswa. Mereka, misalnya, mengeluh kalau mahasiswa demo: jalanan akan macet (padahal waktu itu jarang ada demontrasi), sementara gerakan demo itu sendiri tidak efektif. Mau mengkritik ya lewat DPR. Tugas mahasiswa belajar ngapain demo. Bikin lulusnya lama saja. Kan kasihan orang tua yang harus membiayai sampai semester 14. Dst.

Pokoknya, di akhir diskusi kesimpulannya sudah jelas, “Memang sulit jadi mahasiswa. Serba salah!”

Di lain sisi, melalui diskusi itu sudah terlihat, siapa yang aktif, siapa yang pasif. Siapa maba yang bakalan jadi aktivis, siapa maba yang kuliahnya hanya diisi dengan belajar dan belajar seperti jaman SMA dulu.

Sialnya, atau untungnya buat aku, Dinda tergolong yang pasif. Sepertinya dia tidak menguasai politik sama sekali. Semakin tinggi intensitas debat, semakin ciut dia. Dinda adalah satu-satunya maba jurusanku yang tak sekalipun bicara dalam forum.

Dia pun disidang di luar kelas. Tidak terlalu keras, tapi Dinda sampai menangis. Dasar manja! Aku pun turun tangan. “Udah rek, nggak usah dibentak-bentak lagi. Langsung dihukum aja.”

Yeah! Hukuman itu adalah mengukur keliling lapangan voli dengan sebatang korek api. “Kita calon arsitek, jadi pengukuranmu harus akurat, oke? Perjanjiannya gini, setiap tebakanmu melenceng 1 mili, kamu harus lari keliling lapangan ini 1 kali. Oke, selamat bekerja, ibu arsitek!” olok temanku yang kebagian tugas menghukum Dinda.

Koreknya sudah kita ukur, begitu pula lapangan volinya. Jadi ini mudah bagi kita, tapi neraka bagi Dinda. Saat ini pukul 11 lebih, sinar matahari mulai sadis. Dinda berjongok di sudut cat lapangan outdoor itu.

Kulihat Dinda berkali-kali mengulang pekerjaannya, benar-benar takut tidak akurat. Ada setengah jam lebih dia di lapangan. Dari jarak 10 meter dapat kusaksikan keringatnya bertetesan membasahi lantai semen itu.

Yang kutakutkan, Dinda pingsan. Tapi kalau kupelajari riwayat kesehatannya, dia tak punya penyakit apa-apa. Sekedar catatan, Dinda pemegang sabuk hijau di karate. Di SMP dulu pun seingatku Dinda pernah aktif di Paskibraka.

Jadi, aku terus menikmati penderitaannya di lapangan itu, tanpa kuatir apa-apa. Hingga setengah jam kemudian, Dinda menyerahkan laporannya pada temanku. Temanku mundur sebentar untuk memeriksa contekannya. Aku tanya dia, “Melenceng berapa?”

“Cukup akurat. Cuma dua senti.”

Aku kagum juga. “Berarti berapa keliling?”

“Ya 18 lah.”

Tanduk iblisku muncul, “Nggak seru, bro! Buat 25 gitu.”

Akhirnya temanku menyampaikan bahwa hasil pengukuran Dinda melenceng 25 milimeter. Jadi dia harus lari keliling lapangan voli 25 kali. Aku melipat lengan di dada senbari tersenyum. Di bawah pohon yang rindang dan teduh, kunikmati Dinda berolahraga seperti orang gila di siang bolong.

Sewaktu masuk kembali ke kelas untuk ISOMA, teman-temannya sampai heran kenapa kulit Dinda lebih gelap (sehingga ketika kacamatanya dilepas, akan terlihat garis cetakan lebih putih di pelipisnya bekas gagang kacamata). Kaosnya nyaris kuyup oleh cairan lemak. Tubuhnya bau matahari.

Lalu semuanya berjalan dengan biasa-biasa saja. Sampai jam 3 sore, waktunya pulang. Kusuruh Dinda menunggu sampai kelas sepi. Dia patuh. Terakhir kutinggal, mulutnya komat-kamit seperti menghapal. Bolak-balik dia mendongak ke Preambule UUD yang dipigura di dinding kelas. Rupanya dia tahu aku bakal menagih hapalan preambule-nya.

Setelah Student Day kelar, seperti biasa, panitia mengadakan rapat evaluasi di sekretariat. Tapi aku ijin tidak ikut. Aku lupa ijin apa, yang jelas sempat terjadi ketegangan. Bagaimanapun aku ketua, masak tidak ikut rapat?

Kataku, “Daripada kita berdebat terus begini, buang-buang waktu, kenapa kalian nggak mulai rapat dari tadi!? Sudah setengah empat, kita malah nggak pulang-pulang!”

Singkat cerita, aku berhasil keluar. Dan kembali pada Dinda. Dialah alasanku bertengkar dengan teman-temanku, jadi dia sekarang ajang pelampiasanku. “Oke, Din, cepetan!”

Dinda terlihat grogi, mungkin melihat pria gempal dengan wajah keras datang menghampirinya. Aku tidak peduli. Aku tetap pasang wajah bengis saat dia mulai mencongak. Setiap aku bilang “salah” dia harus mulai dari awal. Aku sendiri tak hapal Pembukaan UUD’45. Siapa juga yang hapal, Pak Karno pun aku yakin tidak.

Ada 15 menit Dinda gigih mencoba, tapi sia-sia. Tujuanku kan memang mengerjai dia. Kena deh! Akhirnya aku (pura-pura) murka. Dia kutuding telah menyepelekan tugas dari aku, sehingga hasilnya begini.

“Satu kali lagi, Kak...”

“Udah, ah! Bosen, bosen! Berdiri, kamu. Ke depan!”

Dinda menurut.

Lalu kusetrap dia. Kusuruh tangannya merentang ke samping atas, dengan telapak tangan menghadap langit, seperti orang minta berkah dari langit. Aku lalu pura-pura ngomel sambil berjalan mengelilingi patung hidup itu.

Postur Dinda lebih tinggi dari aku, sehingga dalam posisi begini, hidungku tepat sejajar dengan ketiaknya. Temanku kupastikan sedang di sekretariat semua. Aku pun menjalankan skenario yang beberapa jam sebelumnya telah kupikirkan.

“Pembukaan undang-undang dasar itu penting sekal… eh, bau apa ini? Kamu pakai parfum ya?”

“Ah, enggak, Mas!” Dinda membela diri dengan panik. Sepertinya dia tahu ada hukuman berat bagi pengguna parfum di acara Student Day. Tadi salah seorang maba dikelilingi 5 senior yang membentak-bentaknya dengan menghubung-hubungkan parfum dan borjuisme. “Kepingin beda kamu ya?”, “Kepingin cari pacar, ya?”, “Laki-laki kok wangi, bencong!”, “Baru juga masuk kuliah udah belagu!” dst.

Itu adalah situasi yang dibuat-buat. Tapi biasanya maba kelabakan dan ciut ditawur senior begitu. Ujung-ujungnya pria itu disuruh jalan jongkok keliling lapangan voli 2 kali. Aku yakin Dinda melihat itu, karena memang saat itu semua disuruh baris di tengah terik siang Surabaya.

“Terus, bau apa ini kalau bukan parfum?” Aku mulai spekulatif mengendusi lubang lengan yang berpangkal pada ketiaknya. Asem sekali, sebagaimana dugaanku. Ini akumulasi dari timbunan keringat sejak pagi tadi: dari hasil drill hukuman, nervous, hinaan, kepanasan, dll.

“Enggak bau apa-apa kok, Kak. Wong saya enggak pake minyak wangi apa-apa.”

Aku mencium lagi ketiaknya, kali ini dari depan. Pasang tampang serius, akting marah. Hirup. Aaaaaahhhh…. “Wangiiii….! Kamu kok ngeyel.”

“Ya Allah, Kak.…” Dinda menciumi ketiaknya sendiri, bergantian kanan-kiri, “Wangi apanya? Wong kecut gini kok….”

Aku ngakak dalam hati mendengar kelakuan dan pengakuannya tentang ketiaknya sendiri. “Sana lompat kodok keliling lapangan voli dua kali!”

Wajahnya memelas. “Yaaa kak, saya capek, kak….”

Heran, aku malah kasihan. Jadi urung. Tapi lumayan, kusetrap Dinda dalam posisi huruf X begitu selama setengah jam. Kunikmati garis-garis penderitaan di wajah ayu itu. Kuhirup aroma ketakutan yang terpancar dari pangkal lengannya.

Jam lima, kulepas dia. Tapi ada syaratnya, “Karena kamu nggak hapal Preambule, PR-mu sekarang nulis tangan Preambule 20 kali di buku tugas.” Kalau 1 preambule butuh 10 menitan buat menyalinnya ke tulisan tangan, maka 20 preambule artinya memakan waktunya setidaknya 3 jam. Padahal masih ada tugas lainnya: Dinda disuruh jadi moderator diskusi besok, sehingga harus mempelajari berita-berita teraktual. Lalu masih ada juga tugas membuat artikel berdasarkan materi-materi yang disampaikan hari ini. Ada 3 materi, berarti ada 3 artikel yang harus diserahkan besok. Dinda pasti depresi berat malam ini. Kapok!

“Soal parfummu hari ini, aku nggak kasih hukuman. Tapi kalau sampai besok tercium sedikit saja wangi dari badanmu, temen-temenku yang bakal bantai kamu. Paham?” Ultimatum ini sangat bermanfaat. Pertama, supaya Dinda tetap merahasiakan kejadian sore ini. Kedua, untuk memberi peringatan pada dia supaya tidak berani-berani berspekulasi pakai apapun untuk tubuhnya, termasuk deodoran. Jadi bisa dibayangkan hancurnya bau ketiak Dinda besok, ha ha ha!

Sekadar catatan, tujuan dari pelarangan parfum atau wangi-wangian ini agar mereka jengah. Karena mereka akan segera merasa kotor dan bau. Lalu kehilangan kepercayaan diri. Dengan begitu, mereka akan cenderung patuh dan merasa kecil.

Aku berjalan ke belakang Dinda untuk mencium bau ketiaknya untuk yang terakhir kali (hari itu). “Besok masuk jam …”

“Tujuh, kak.” Dinda menyeringai. Keringatnya sudah sejagung-jagung. Lengannya pasti sudah panas tak tertahankan.

Kuhirup kuat-kuat udara di sekitar ketiaknya, membuat ereksiku makin keras, semoga Dinda tak menengok ke bawah. “Kamu harus udah datang ke sini jam 6 dengan tulisan preambule itu. Telat satu detik kamu harus lompat kodok keliling lapangan. Paham!?”

Suara Dinda bergetar, “Iya, kak.” Sepertinya dia tak kuat lagi.

“Ya sudah, pulang sana.”

Kata-kataku ini merupakan oase baginya. Dinda menurunkan lengannya yang kepegalan, lalu memijat-mijatnya. Tampak sekali lengan itu kaku, tapi wajahnya lega. Sambil bermandi keringat di sore yang sejuk itu, dia mengemasi tas karungnya, tak lupa mengucapkan terima kasih. Dikerjai malah bilang terima kasih.

Dinda kuminta datang jam 6, aku sendiri berencana datang jam setengah tujuh.  Keesokan harinya, aku dengar dari Ira, Dinda datang jam 5.45. Selama 1 jam lebih dia nganggur di kampus. Ha ha ha, rasain kukerjain lagi. Pecundang!

Semua tugasnya beres, penampilan Dinda sebagai moderator diskusi politik pun lumayan. Sehingga dia terhindar dari lingkaran setan hukuman yang kuciptakan. Setan!

Hanya, kuperhatikan kantung mata Dinda tampak menghitam. Rupanya dia begadang menyelesaikan tugas-tugasnya yang bejibun. Hari kemarin betul-betul buruk, istirahat kurang, fisiknya hari ini pun tampak drop.

Waktu pengenalan kampus dengan jalan kaki berkeliling bersama, wajah Dinda memucat. Saat itu pukul 10. Dinda ambruk. Teman-temannya pun histeris. Yang cowok bukannya menolong, malah terpaku. Barangkali mereka takut salah bertindak dan ujung-ujungnya dihukum.

Dengan cekatan, kubopong Dinda. Padahal aku bisa saja tinggal menyuruh salah satu dari maba itu. Yah, ini bukan sepenuhnya niat baik. Kalian akan tahu maksudku sebentar lagi.

Bobot cewek bongsor ini sekitar 60 kg. Jadi mampu kuangkat sendirian (asal jangan lama-lama). Tangan kiriku di balik lututnya. Tangan kananku menyangga punggungnya. Dan jemariku tepat bermuara pada ketiak kanannya. Awalnya terhalang kain di lengannya. Tapi kain itu dengan gerakan yang tipis bak seorang master sulap kusingkirkan. Jemari tangan kananku pun leluasa menelusup ke ketiaknya yang sudah becek itu.

Tak ada yang tahu. Kalaupun tahu, mereka pasti melihat kebetulan saja tanganku ada di ketiaknya. Ha ha ha ha!

Kusuruh kelompok itu meneruskan turnya. Aku sendiri ditemani salah satu OC cewek, sebut saja namanya Nisa, menuju sekretariat. Sekitar 20 meteran. Tanpa sepengetahuan Nisa, jari-jari tangan kananku kumain-mainkan di tempat lembut yang hangat itu. Seperti sedang menggelitiki Dinda. “Adikku” pun bangun lagi.

Sesampainya di sekretariat, tubuh Dinda kuletakkan. Kacamatanya kucopot. Ruangan ini sepi. Hanya ada kita bertiga.

Nisa sibuk mencari balsem dan mengambil air. Aku berpura-pura membenahi kasur dan posisi baringnya. Tapi begitu Nisa membelakangiku, aku segera membaui jemari kananku.

Ooooh …. Aku kembali tergedor oleh bau paling alami dari seorang gadis yang lebih tua 2 tahun dariku ini. Sepertinya kali ini Dinda tak memakai deodoran sama sekali. Pesanku kemarin sore tersampaikan.

Nisa pamit untuk meminjam balsem di luar. Mulutku bekata, “Cepet ya, Nis!” Padahal hatiku lebih jujur, “Nggak usah buru-buru, sampai magrib juga nggak papa, Nis!”

Nisa pergi. Aku menatap paras Dinda yang penuh penderitaan gara-gara aku. Kantung matanya besar, wajahnya gosong, keriputnya tampak. Bahkan pakai bedak pun dia tidak sempat (atau tidak berani?).

Dadaku bergemuruh. Dengan tubuh berkeringat seperti itu, Dinda malah terlihat seksi. Mana tahan. Aku tentu bukan binatang tak berotak yang hendak memangsa gadis ini. Aku lelaki normal, tapi masih bermoral. Tapi setidaknya aku ingin membayar lunas penasaranku.

Kuangkat 2 lengan Dinda ke samping telinganya. Jantungku masih berdebar cepat. Aku berlari ke luar ruangan untuk memastikan Nisa sudah menghilang. Sekembalinya, kuendusi ketiak mantan seniorku itu. Kuhirup saripati aroma tubuhnya dalam-dalam. Sambil melihat dadanya yang naik-turun dengan damai.

Kanan. Lalu kiri. Seingatku ketiak kanannya lebih kecut dari ketiak kirinya. Sampai sekarang pun seperti itu. Aku tak tahu kenapa.

Aku menoleh paranoid ke luar ruangan.

Masih aman.

Ya sudah!

Aku pun memberanikan diri menjilati ketiak kanan itu. Mungkin ini menjijikkan bagi orang lain. Tapi aku benar-benar menikmati sensasi lembut kulitnya itu. Rasa asinnya pas. Seolah Tuhan telah menggaraminya dengan sempurna.

Kujilati. Kuciumi. Kugigit sedikit. Ketiak yang mulanya basah oleh peluh, kini kuyup oleh liurku.

Oke. Selesai. Aku tidak mau ada saksi. Aku pun menutup lengannya kembali.

Tapi, ah, sepertinya belum rela aku meninggalkannya. Seandainya saat itu sudah ada HP berkamera, tentu aku akan mengabadikan momen ini. Aku terus menatap tubuh Dinda. Berpikir apa lagi yang bisa kulakukan.

Tapi Nisa keburu datang. Untung aku sudah selesai. Padahal tadi sempat terpikir untuk menjilati ketiak yang kiri.

Setelah Student Day, aku dan Dinda berteman. Semakin lama semakin dekat. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri sewaktu memandang ketiaknya di sela-sela lengan pendeknya. Sambil lihat kulit ketiak itu, aku suka membatin, “I’ve been there.”

Dinda pun sering kukerjai. Kenangan-kenangan itu membuat gairahku bangkit kembali. Tapi sekarang gantian Dinda yang sering mengerjai aku. Disuruh menemani shopping berjam-jam, antar-jemput di kantornya, membangunkan aku tengah malah hanya untuk bercinta, doooh…!

Tapi, itu yang dinamakan cinta, bukan? Yeah, kami sudah menikah di tahun 2000 lalu. Wanita ini pernah mempermalukan aku sampai menjejakkan trauma bertahun-tahun, sampai-sampai aku benci melihat wajah cantiknya. Jika kau bertanya apa yang membuatku menikahinya, aku akan menjawab jujur, “Ketiaknya.”