Wednesday, July 8, 2009

Bak Embun di Pagi Hari

- Sweet Sweat

Sori, aku bukan penggemar ketiak dari lahir. Menurutku tidak ada yang menarik di situ. Aku baru mengagumi bagian itu setelah menikah lima tahun lalu saat umurku masih 19. Ini salah istriku dan dua ketiaknya. Dialah yang membuatku kecanduan. Meskipun dia tak pernah bermaksud melakukannya. Persis sejak malam pertama, aku jadi suka ketiak istriku, meskipun belum ngeh. *Goblok, ngapain aku bela-belain ikut lomba dan nulis ini? Jadi malu sendiri, nih*

My God, awalnya kuanggap remeh rasa ini. Aku melakukan seks tanpa melibatkan ketiak, dan hidup kami bahagia. Tetapi setelah tiga tahun menikah dan punya anak, semuanya jadi meredup.

Suatu hari, di saat kesepian karena ditinggal istriku berdarma wisata bersama ibu-ibu kompleks selama tiga hari, Entah kenapa aku melihat fotonya di pigura yang mengenakan baju tanpa lengan, aku menggumam, “Aku kangen baumu.”

Yeah, aku kangen bau alami istriku. Mungkin cuma sesimpel itu masalahnya. Mungkin itulah pesan dari alam bawah sadarku. Maka saat dia pulang, aku “menyerangnya”. Tanpa babibu aku langsung membuka jaketnya. Mengendusi sekujur tubuhnya. Menghirup dalam-dalam aroma kewanitaannya.

Dia risih juga kuperlakukan seperti itu. Tetapi tidak melawan. Kami pun menikmati siang yang menakjubkan itu. Sejak itu kami tidak pernah ML di malam hari. Aku yang selalu menolak. Pertama karena capek sehabis kerja, tidak ada energi. Kedua karena ...

Aku ketagihan aroma ketiak istriku di pagi hari. Pagi selalu menakjubkan. Karena udara di luar memurni. Embun bermunculan. Segar semerbak. Saat itu pula aku memperoleh aroma paling sedap yang menyembul dari pangkal lengan istriku.

Biar kuterangkan prosesnya. Tetapi ini penjelasan orang awam. Aku bukan dokter atau ahli biologi.

Pada malam hari, istriku mandi bersih. Membilas keringat-keringatnya, baik yang masih basah maupun yang sudah mengering selama beberapa jam terakhir. Menghilangkan pula lapisan deodoran yang seharian menempel di sana. Pori-pori tubuh pun terbuka kembali setelah noda-noda hilang terbasuh.

Sayangnya, sabun biasanya meninggalkan zat baru di kulit. Ini menyebabkan kulit tidak benar-benar bebas dari lapisan lain. Tetapi jika membilasnya benar, sabun pun tak perlu menempel di kulit. Aku yakin istriku, yang orangnya bersihan, melakukan pembilasan dengan benar. Karena aku bisa merasakan kulitnya segar, tanpa bau sabun meskipun setelah mandi.

Tetapi aku tidak ingin “menyerbunya” saat itu. Karena aroma alami itu belumlah muncul. Produksi kelenjar keringatnya belum aktif. Sisa-sisa keringat pun sudah hilang. Jadi tubuh istriku seperti manekin, tak berbau, tak berasa. Butuh waktu bagi tubuhnya untuk memanusia. Butuh waktu untuk membuatnya beraroma lagi. Dan itu biasanya terjadi dalam beberapa jam.

Aroma itulah yang membuatku kesetanan. Entahlah, sejak kapan aku jadi makhluk pendengus seperti ini. Aku tidur. Dia tidur. Dalam sejuknya AC kamar kami. Nikmat. Tetapi tanpa syahwat.

Begitu bangun pagi, keajaiban itu terjadi. Alam telah melakukan tugasnya dengan baik. Bau ketiak istriku, seperti embun pagi yang segar, menjadi begitu menggairahkan.

Kami beranjak. Buang air kecil. Gosok gigi. Dan ketika aku menahan pergelangan tangannya sambil berkata “Jangan mandi dulu, ya”, istriku sudah bisa menangkap maksudnya. Dia pasti tersenyum. Meletakkan kembali handuk yang sudah terlanjur tersampir di pundaknya.

ML di pagi buta. Inilah satu-satunya olahragaku sejak ketagihan ketiak wanita pujaanku itu. Semua pun jadi indah kembali. Anak kami sudah dua sekarang. Tapi ledakan nafsuku masih seperti saat mahasiswa dulu. Terima kasih, istriku, untuk merawat sepasang ketiak yang menakjubkan itu.

NB: Tulisan ini merupakan Lima Besar Lomba kemarin. Telah melalui proses editing.