Sunday, March 16, 2008

Fear Factor, Tontonan Wajib Penghobi Ketiak

Kemarin malam gw nonton Fear Factor di Global TV. Tajuknya “Reality Stars”. Di sini pasangan-pasangan dari reality show Amerika diadu dalam tantangan-tantangan menguras adrenalin khas Fear Factor. Yang bikin gw terkesan adalah tantangan ketiga. Atau tantangan ke berapa ya, ga tahu tepatnya, soalnya gw telat nonton. Tapi gw tahu persis bagaimana jalannya tantangan itu.

Aturan simpelnya gini, tangan-kaki-perut si cewek diborgol rantai di sebuah dipan berupa papan sorong, kemudian cowok pasangannya kudu mencari kunci di kolam es batu. Si cowok juga harus memutar tuas setahap demi setahap untuk mendorong papan tadi masuk ke lorong sempit. Di situ sudah menunggu kecoak dan hewan-hewan melata lain. Pada setiap tahap, segerombolan tarantula siap diguyurkan ke tubuh yang terborgol itu.

Para kontestan datang ke lokasi tantangan dengan berjaket. Jadi dugaan gw pas itu, “Ini ga bakal menarik.” Tapi begitu pasangan Carmen (dan Anthony) dari American Idol berlaga, pikiran negatif gw itu segera luruh dan mata ini tiba-tiba melek. Carmen berbaring pada dipan. Ternyata dia hanya memakai kutang yang lazim dipakai cewek-cewek negera maju pas mereka berolahraga.

Sepasang ketiak menawan pun terhidang di depan pemirsa begitu kedua tangan Carmen terborgol kuat di atas kepalanya. Cekungan ketiak itu tampak begitu menggoda. Dia peserta pertama, jadi wajar kalo terlihat tegang. Nervous itu kelihatan dari kedua wajahnya: wajah kepala dan wajah ketiak.

Hampir setiap manusia pasca pubertas ditakdirkan berbulu ketiak, pria maupun wanita. Bedanya, para wanita terlatih untuk membabat habis rambut-rambut di daerah nan eksotik itu. Toh bagaimanapun bersihnya cukuran mereka, pasti sia-sia! Karena begitu dia mengucurkan keringat berlebih, daerah bekas tempat “penebangan” itu pasti kentara secara mencolok.

Ini dialami Carmen, peserta pertama kita yang tegang membayangkan tarantula yang akan segera merabai sekujur tubuhnya. Oooh, lihatlah, ketiaknya sampai berwarna hijau, lantaran penuh peluh. Bagian hijau tersebut memberi tahu kita dengan akurat dimana letak tumbuhnya rambut-rambut ketiaknya sebelum dicukur. Kamera menyorot dua ketiak itu dari berbagai sudut. Semuanya mengafirmasi dugaan gw, bahwa ketiak Carmen sedang banjir peluh! Bahkan sepertinya gw bisa mencium aromanya dari sini. Aih, beruntungnya hewan-hewan itu.

Peserta kedua yang diborgol, Trishelle (berpasangan dengan Mike “the Miz”) dari The Real World, pun tak kalah nervous. Meski tak terlalu kentara, ketiaknya juga menghijau. Tapi ketiak peserta ketiga, Tana (berpasangan dengan Craig) dari The Apprentice, tidak hijau. Ketiak wanita itu putih pucat, jauh lebih pucat di banding bagian kulit lain di lengannya!

Berkat kamera dan pencahayaan yang diset oleh tim Fear Factor, dalam lorong sempit tersebut, perempuan-perempuan cantik itu tampak jernih sedang berkeringat di leher, dahi serta lengan mulus mereka, selain tentu saja di ketiak. Bahkan saat tantangannya usai, gw lihat betis Tana berair (tentunya ini peluh) dan gemetar.

Bagaimana dengan Trishelle? Setelah bebas dari borgol dan bisa mengempitkan kembali kedua keteknya, bagian ketiak baju tanpa lengan Trishelle kelihatan basah membentuk seperempat lingkaran. Pemandangan-pemandangan yang keren.

Sayang, sewaktu tantangan berlangsung, sebagian gambar ketiak tertutup oleh slug “NetZero” (penghitung waktu resmi Fear Factor) yang terletak di pojok kiri bawah. Kadang pemandangan ketiak juga terganggu oleh subtitle dari Global TV. Namun itu belum seberapa menjengkelkan. Kadang-kadang di saat seru-serunya, Global TV malah tega menampilkan iklan “ketik REG bla-bla-bla” yang menutup seperempat layar bagian bawah. Wooi, Global TV ga seru!!

Kalo ada DVD Fear Factor, enak. Kan subtitle-nya bisa di-off-kan, dan gw ga perlu direcoki iklan-iklan bedebah itu. Gw pasti beli deh DVD-nya buat di-share di blog ini, kalo emang ada.

Gw demen banget ama Fear Factor. Di sini banyak pemandangan ketiak basah sih. Kebanyakan karena kontestan yang biasanya seksi-seksi itu nervous (atau fobia?) menghadapi setiap tantangan. Ada tiga jenis tantangan yang musti dijawab: Menaklukkan rasa takut, rasa muak (dengan memakan sesuatu yang menjijikkan), dan tantangan kompleks (adegannya mengingatkan kita pada film-film action).

Tantangan jenis pertamalah yang gw suka. Soalnya sederhana, kering (kalopun basah tidak gara-gara lendir yang menjijikkan atau disiram air, tapi karena keringat kontestannya sendiri) dan biasanya hasil syutingannya tenang sehingga gambar ketiak bisa terambil dengan lumayan memuaskan.

Hei, loe tahu kan, pernah ada Fear Factor ala Indonesia. Itu bagus juga tuh. Sayangnya, Fear Factor Indonesia (di luar masalah ketek-ketekan) ga terlalu menghibur. Bayangin aja, Sob, para kontestannya terus berusaha ngomong pake idiom-idiom Inggris. Maksudnya niru-niru kontestan Fear Factor Amerika yang pinter ngomong dalam rangka memploklamirkan kepedeannya atau memprovokasi kontestan rivalnya, tapi malah kaku dan culun.

Pembawa acaranya juga, sama sekali ga articulate (pintar dan tepat dalam mengeluarkan kata-kata), sehingga jangan berharap mendengar celometan cerdas-lucu seperti yang biasa meluncur dari mulut Joe Rogan. Belum lagi action para kontestan Indonesia kurang nekat dan agresif. Seolah mereka kompak untuk separuh hati menjalankan tantangan-tantangan Fear Factor. Payah!

Acara ini akhirnya ga diterusin. Ratingnya jeblok. Yang nonton segelintir doang. Yeah, mana ada yang mau beriklan di acara “belajar nyeletuk Inggris” dan “action setengah-setengah” gini. Tapi gw tetep nyaranin loe nonton (entah lewat rekamannya atau DVD-nya). Soalnya, di Fear Factor lokal ini malah cewek-cewek kontestannya, gw perhatiin, lebih mudah grogi. Ketiak mereka lebih gampang basah.

Well, orang-orang Timur (termasuk Indonesia) memang terbukti lebih jarang mau mengangkat tangan (mempertontonkan ketiak) mereka. Tapi jelilah! Lihatlah bagaimana beceknya ketiak cewek-cewek seksi peserta Fear Factor Indonesia itu. Rasanya, Fear Factor dari negara manapun memang wajib ditonton para pengapresiasi ketiak wanita.