Tuesday, November 27, 2007

Ketiak Basah Saat Presentasi Kenaikan Grade

Cerita di bawah ini gw ambil dari blog ini. Kisah yang natural dan jujur. Selamat membaca.

Nama saya Kiki. Saya bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang perminyakan. Perusahaan saya ini tugasnya memberikan servis teknis ke perusahaan-perusahaan minyak. Dari pengeboran lepas pantai, optimisasi produksi, sampai ke bidang penyediaan software hardware pun dirambah.

Kiki TunggonoSudah tujuh tahun saya bekerja di sini dan baru berhasil naik grade dua kali. Benar-benar prestasi yang memalukan! Teman-teman dari bagian lain biasanya sudah menjadi manager kecil yang ujung-ujungnya bisa menjadi manajer sedang, kalau memang hokinya besar langsung menjadi manajer lumayan besar, atau kalau jadi frustrasi langsung berhenti.

Sementara itu saya tetap terlalu malas dan masih terlalu asyik dengan aspek-aspek kehidupan yang lain sehingga kenaikan grade menjadi hal yang tidak penting. Kemudian saat sadar bahwa naik grade cukup penting, saya pun kerjakan walaupun dengan berat hati. Pendek cerita, setelah susah payah saya melewati seluruh kenaikan dari grade 8 sampai grade 10. Tiba waktu saya untuk mengerjakan kenaikan ke grade 11.

Sedikit penjelasan sebelum saya teruskan ceritanya; di perusahaan saya ini sistem kenaikan grade itu seperti layaknya sebuah universitas. Ada topik-topik/kelas-kelas tertentu yang harus diambil. Setelah lulus tes (baik lisan maupun tulisan) mengenai topik-topik tersebut, barulah kenaikan grade didapat.

Masalah terbesarnya ada pada kenaikan dari grade 10 ke grade 11. Untuk kenaikan grade ini, si pegawai harus membuat presentasi dan laporan dari sebuah project. Bukan project sembarang pula, ada kriteria-kriteria tertentu dari project yang bisa digunakan untuk naik ke grade 11. Dan pada hari yang ditentukan, kandidat akan diinterview secara bergilir oleh para manager mengenai topik tertentu (e.g: personalia, keuangan, operation, marketing, dan manajemen). Jadi selain harus mempersiapkan presentasi project, si pegawai juga harus belajar mengenai seluruh aspek tadi. Perusahaan saya ini memang benar-benar Sekolah Luar Biasa…

Setelah penundaan-penundaan dengan alasan-alasan tidak penting, dan banyak sesi penceramahan oleh para manager karena keterlambatan saya naik grade 11 (sebenarnya sih saya yakin mereka sadar saya malas dan saya sudah kehilangan kepercayaan kepada sistem di perusahaan ini), akhirnya saya putuskan untuk mulai mengerjakan proses yang ternyata tidak gampang ini.

Subjek demi subjek saya pelajari, tes demi tes saya lalui, project saya pun sudah disetujui dan mulai saya kerjakan. Akhirnya presentasi saya pun selesai. Dua usaha pertama saya untuk presentasi gagal total, manajemen lokal tidak menganggap saya siap untuk pergi dan presentasi di Jakarta. Kejadian yang sempat membuat saya sebal dan kecewa dengan diri saya sendiri.

Menyerah? Tentu tidak. Saya pun menjadwalkan diri saya untuk kembali presentasi di bulan November ini. Dan ini adalah cerita mengenai presentasi tersebut.

Betapa ajaibnya bahwa dari segala hal yang terjadi saat saya presentasi, yang paling menarik justru saat menelaah faktor-faktor pemicu stress yang terjadi: ruangan dan projector yang tidak tersedia, si bapak tukang bikin binder yang tiba-tiba menghilang sehingga saya terancam tanpa hand-out saat presentasi, projector jelek yang tidak bisa mengeluarkan warna dengan jelas, kontrak dengan sebuah perusahaan minyak nasional yang tidak beres-beres (entah karena ketidakkompetenan siapa), dengan user yang tidak bisa make up their minds, manajer saya yang meminta perubahan-perubahan (walaupun kecil, tapi tetap merepotkan) di presentasi saya 4 jam sebelum waktu presentasi, bagian personalia yang bolak-balik menelepon untuk konfirmasi waktu presentasi, ops manager yang sangat susah dicari sehingga waktu presentasi tidak bisa dikonfirmasi, sebuah proposal yang harusnya sudah dikirim oleh partner perusahaan saya hari ini tapi masih belum ada juga (alamat deadline ke sebuah perusahaan minyak swasta tidak akan terpenuhi...alamak!), koordinasi latihan cheerleaders untuk Sports Day dengan segala pernak-perniknya yang ternyata lumayan memakan pikiran, dua sariawan besar di ujung mulut dekat bibir (sehingga saat membuka mulut pun rasa sakit pasti menyerang seperti ditempeleng di telinga).

Tapi fenomena yang paling menarik sepanjang presentasi adalah ketiak saya.

Ketiak saya jarang membasah, apalagi sekarang dengan bantuan berbagai macam deodoran anti keringat yang ada. Tapi saat presentasi, ketiak saya berubah perangai. Saya bisa merasakan ketiak saya membasah dipeluhi leleran keringat. Jengah rasanya, padahal tadi pagi saya sudah mandi dan menggunakan banyak-banyak deodorant stick (impor pula!) yang katanya anti keringat melindungi selama 24 jam. Sumpeh, bo’ong banget!

Sementara saya ditembaki dengan pertanyaan bertubi-tubi yang mengharuskan saya memeras otak sambil bolak-balik mengacu ke presentasi saya (kegiatan yang mengharuskan saya mengangkat-angkat tangan saya menunjuk ke suatu grafik, tabel atau angka tertentu, mengekspos habis noda basah di bagian ketiak). Saya pun harus menekan rasa malu, menjaga kelantangan suara, postur badan (meski ketiak basah, jangan ragu untuk angkat tangan, tolak pinggang, dan dada tegap) dan tetap menunjukkan muka super pede.

Saya makin jadi kikuk. Keringat bukan hanya mangalir perlahan di lekukan kecil antara tangan dan badan, tapi juga di dada, di antara kedua payudara. Perlahan, geli-geli menyebalkan rasanya. Halah... Hidup kok susah amat yak.

Sejam setengah berlalu, saya sudah membayangkan sebentuk bayangan lebar berwarna lebih gelap di baju saya sekitar ketiak yang makin meluas dan meluas. Daripada menyimak ocehan si Ops Manager yang sibuk membuat perbandingan antara pertumbuhan revenue di bagian saya dengan seluruh perusahaan, pikiran saya lebih tertuju pada “Mengapa kok ketiak saya berkeringat berlebihan begini ya?”, “Saya makan apa sih tadi siang?”, “Apakah gara-gara indomie goreng jadi berkeringat?”

Si Ops Manager menekuri hand-out presentasi saya, mengangguk-angguk, melihat sekitar dan bertanya “Is there any other questions?”

Para hadirin lainnya saling melihat, sebagian menggeleng, sebagian berkata “No.” Ops Manager pun menyatakan bahwa presentasi saya sudah memenuhi syarat untuk kenaikan grade di Jakarta. Legaaaaa sekali rasanya. Rasanya saya ingin sekali naik meja dan menari-nari pinggul ala Beyonce. Saya ucapkan terima kasih. Para hadirin beranjak keluar dari ruangan. Saya pun melangkah keluar ruangan.

Langkah saya terasa ringan, senang sekali, saya tersenyum lebar. Ketiak saya yang basah pun ikut bahagia, sembari terus mengeluarkan aliran lambat keringat kebahagiaan. Ketiak oh ketiakku yang basah…