Monday, June 4, 2007

Tanpa Usaha, Sepasang Ketek Berbulu Datang Sendiri

- Denny HSP

Sore tadi, gw fitnes di gym langganan. Lagi enak-enak latihan, seorang cewek masuk. Dia berjilbab, namun kaosnya berlengan pendek sampai pangkal lengan. Hm, gw sering liat cewek berjilbab latihan fitnes atau aerobik, tapi sumpah, baru kali ini tau cewek berjilbab yang keteknya sengaja dipamerkan gini!

Si cewek kebingungan memperhatikan alat-alat fitnes. Dia pasti member baru. Tapi kok sendirian? Ga ditemani instruktur? Gw cuek saja meneruskan latihan. Eh, dia berani menyapa gw. Minta diajari cara pakai sebuah alat abdominal pula. Di situ kan ada beberapa instruktur jaga, ngapain gw yang dimintai tolong?

Ya udah, karena wajah dan bodinya lumayan, gw layani.

Seorang instruktur pun negur, tapi cewek berkulit sawo matang ini cuma senyam-senyum ga menggubris. Instruktur itu terus berusaha mengingatkan dia bahwa gw juga member, jadi jangan direpoti dengan tugas yang seharusnya merupakan tanggung jawab instruktur.

“Udaaah, ga papa kok,” gw menengahi. “Tapi ntar honornya dibagi ya.” Mereka tertawa ga setuju. Tapi akhirnya gw dipercaya menangani cewek berperawakan kecil ini. Gw udah akrab banget ama instruktur-instruktur sini, jadi mereka pasti tahu kualitas gw (cieee, sombong dikit nih).

Gw ajari sang cewek memakai alat yang tadi ditanyakannya. Namun kemudian gw suruh dia bersepeda statis. Ini prosedur biasa. Gw sendiri juga bersepeda dulu sebelum latihan beban. Tapi khusus buat nih cewek, sebetulnya gw kepingin dia bau keringat dulu. Sebau-baunya! Hehehe. Jadi di sepeda itu gw setel agak berat girnya. “Lima belas menit ya,” instruksi gw. Terus gw melanjutkan latihan gw sendiri.

Eh, ga sampai 10 menit tuh cewek udah nongol lagi di depan gw. Tanya-tanya dengan logat Jawanya yang medhok, “Alat yang Mas pakai ini kelihatannya enak ya. Nyoba, Mas. Gimana caranya?” Yah, gw ladeni deh. Pertama-tama, gw terangkan, lalu gw persilakan dia untuk mencobanya sendiri.

Kemudian, gw menggiringnya ke alat-alat yang mengharuskan penggunanya merenggangkan lengan. Kenapa? Ah, masa’ ga tau sih? Tentu karena gw pingin liat keteknya dong!

Momen pertama yang bikin gw horny adalah pas di alat pengencang paha. Di situ emang yang dilatih paha, namun kedua tangan pengguna harus berpegangan ke atas untuk membantu tenaga dorong. Nah, pegangan tangan itu gw setel lebih tinggi, sehingga lengannya jadi lebih lebar terangkat. Di saat itulah gw lihat keteknya yang berbulu. Ohh .... jantung gw, entah kenapa, spontan berdentum-dentum penuh gairah.

Selama ini sering gw denger kalo cewek berjilbab bertindak lebih alami, lebih murni, dengan tidak mencukur rambut ketiaknya. Logikanya, karena bagian tubuh tersebut selalu tertutup, jadi dia bebas membiarkannya gondrong, toh ga bakal ada yang tahu kan. Gw pikir itu mitos. Tapi kali ini gw buktikan kebenaran “mitos” itu (meskipun ini tidak bisa digeneralisir juga sebagai kesimpulan umum).

Helai-helai bulu ketek seorang cewek berjilbab kini bersemi di depan gw! Ketek itu emang ga begitu lebat. Tapi bulu-bulunya rata, terlihat sehat, lembut, subur, dan mengundang siapapun untuk menjamahnya. Pemiliknya pun ga risih mempertontonkan kebunnya (atau emang dia sengaja goda gw ya).

Coba gw endusi. Ah, ga bau. Sialan! Sampai gw berhasil mendekatkan hidung sejengkal dari keteknya yang masih membuka, sambil pura-pura sibuk membenahi sudut kemiringan alat yang wujudnya semacam kursi pasien dokter gigi itu, ga tercium bau samasekali! Ga kecut. Ga wangi. Ga ada aroma deodoran. Hambar, pokoknya!

Gw udah training cewek yang ternyata masih mahasiswa baru itu dengan berbagai alat: Biseps, triseps, pectoral, dsb. Semua itu alat yang berkali-kali gw suruh pakai ke dia lantaran prinsip gerakan alat-alat tersebut adalah membuka-tutup ketek pengguna. Jadi gw dapet banyak pemandangan dari nih cewek.

Sayang, orangnya rada males. Dia pembosan! Latihan dikit, udah minta pindah ke alat lain. Meski begitu, gw berhasil bikin dia mandi keringat. Kulitnya (pas gw pegang-pegang untuk membenahi posisi lengannya) terasa dingin karena peluh. Kulit di wajahnya apalagi. Bercucuran seiring dengan kembang-kempis lubang hidungnya.

Namun ketiak itu tetap tampak kering. Bagian ini ga sempat gw sentuh sih. Tapi dari bulu-bulu keteknya yang halus dan mengembang indah itu, gw simpulin, keteknya emang lagi kering. Heran deh. Seluruh tubuhnya mengucur begitu, namun ketiaknya tetap kering. Tersangka utama: Deodoran!

Bagaimanapun, puas rasanya memandangi ketek wanita yang bahkan namanya gw ga tahu ini. Ini barangkali yang namanya sanreda (santai rejeki datang). Sementara instruktur-instruktur tadi cuma senyum-senyum dikacangin member baru ini.