Wednesday, November 30, 2005

Tentang Manusia dan Bau Tubuhnya

- Denny HSP

Tadi gw browsing, nemu artikel bagus nih.

Seperti hewan, awalnya tubuh manusia juga memanfaatkan bau badan untuk memikat lawan jenisnya. Kita tahu hewan menyebarkan aroma bau badannya saat musim kawin (estrous). Hormon pemicu seks lawan jenis pada hewan kita kenal sebagai pheromones.

Lewat pheromone, secara kimiawi hewan bisa saling berkomunikasi seks, yang hanya dikenali oleh sejenisnya yang berbeda kelamin. Gajah misalnya, pada musim kawin bisa mencium bau lawan jenis yang jauhnya bilangan kilometer.

Manusia? Sudah lama dicatat kalau bau badan manusia memproduksi pheromone juga, namun lama tidak dimanfaatkan lagi. Mengapa? Lantaran kultur sudah merusak ketajaman hidung manusia untuk masih terpengaruh oleh bau badan lawan jenisnya.

Teknologi pembuatan parfum menjadikan hidung manusia tumpul untuk mengenali exaltolide pada bau badan lelaki dan tak tajam lagi membaui copulin (senyawa bau badan wanita). Sebetulnya aroma seks purba itu masih hadir sampai sekarang. Di hidung pria, bau badan wanita itu cenderung berjenis "manis" (sweet) dan "bersih" (clean), sedangkan lelaki cenderung "busuk" (smelly) dan "masam" (sweaty).

Soal bebauan tubuh, Robert Burton sangat lengkap menghimpun dalam bukunya, “The Language of Smell”. Disebutkan di situ kalau hidung manusia bisa membedakan ratusan, bahkan ribuan jenis bebauan, termasuk yang menggiringnya untuk menjadi greng, baik pada pria maupun wanita.

Di kalangan kera betina, bau copulin memikat sang jantan untuk lebih sering mengawininya (copulasi). Bayi hewan bisa membedakan puting susu induknya dengan yang bukan dari bau pheromone milik indungnya.

Pada manusia, copulin tidak begitu kuat lagi membangun seks dan roman, oleh karena dibandingkan dengan wanita, hidung pria tidak lebih tajam terhadap bau badan lawan jenisnya. Namun, riset terhadap senyawa ini terus digiatkan, bagian dari proyek gender-related smell.